Buatlah survey random, tanyakan apa image Anda terhadap Australia, negara berusia muda sangat terpencil dan seringkali bersikap awkward di kancah politik Asia Pasifik. Panjang pantai Australia, walaupun mungkin masih kalah dengan RI, adalah aset utama yang terkelola dengan baik. Dan bicara dengan pantai, kita bisa menerka ratusan tubuh semi polos yang berderet rapi setiap weekendnya untuk alasan untuk mendapatkan a bit of a tan yang tentu saja dianggap sangat chic di masyarakat Barat saat ini.
Kebetulan saya tinggal tak jauh dari Cronulla, suburb kecil di selatan Sydney yang mencuat (for all the wrong reasons!) akhir tahun lalu, menjadi buah bibir dan headlines media dunia, selepas kerusuhan Sydney Desember 2005.
Sedikit insight dari saya yang kebetulan pernah merasakan betapa menyenangkannya gaya hidup yang ditawarkan Cronulla. Cronulla adalah suburb terbentang di sebuah peninsula kecil eksklusif, rumah-rumah mewah gedongan berjejer di sepanjang teluk, berbaur dengan apartemen middle class dan highrise hotels yang kalau saja tidak dihentikan, mereka hendak mendirikan lebih banyak lagi pencakar langit. Residents Cronulla, setelah kerusuhan pun mendapat cap sangat buruk, sedikit banyak mereka dilabeli the face of modern white Australian racism. Padahal, perlu diketahui, sebagian besar perusuh adalah mereka yang tinggal di luar area ini, terdorong oleh konsumsi alkohol berskala besar di hari yang terik, emosi mereka pun lepas. Saya sendiri merasa aman-aman saja di zona ini, entah apa kekhawatiran teman-teman saya yang setiap kali bertanya, Are you okay in Cronulla? Plus, banyak lagi faktor-faktor pemicu kerusuhan lain yang tidak akan saya bahas kali ini; adalah tidak adil mengatakan Austalia rasist, karena semua bangsa (nation) di dunia, termasuk RI, memiliki elemen rasisme, tanpa kecuali.
Oktober 2005, saya mengambil keputusan besar. Sesuatu yang telah lama ingin saya coba akhirnya termaterialisasi di depan mata. Enam tahun di negeri wombat ini, tak pernah saya bernyali menjajal surfing yang dianggap bak "Australia's very own religion". Ingat motto 4S: Surf, Sun, Sand and ..x ??? Ah, saya hanya bergurau untuk yang terakhir, terserah interpretasi masing-masing.
Kesempatan emas yang dimaksud adalah, saya punya waktu luang dan menemukan tawaran kelas surfing yang ekonomikal. Kebanyakan Community College di sini mendapatkan subsidi dari pemerintah atau seringkali mereka bisa menawarkan kelas-kelas yang jauh lebih murah dari institusi privat.
Tak bisa disangkal, kelebihan surfing dibanding olah raga lain ialah ia menawarkan gaya hidup outdoorsy dan laid back, panorama laut, pantai, esplanade yang tak pernah membosankan setiap saat, bahkan mood kita pun bisa terombang ambing seiring deburan ombak. Plus, resto, kafe, gelateria, supermarket, tak ketinggalan memberi kemudahan melenyapkan dahaga beach-goers. Jangan bayangkan pantai Kalifornia dengan "body building on the beach" mereka karena kultur di sini tidak segarang itu. Sydneysiders lebih memilih melakukan aktivitas mereka low key tanpa harus pamer ukuran bisep dan trisep. Kegiatan populer lainnya ialah jogging di sepanjang esplanade sambil memuaskan mata dengan pemandangan Pasifik yang mencengangkan.
Kelas surfing yang saya ikuti berafiliasi dengan sekolah surfing lokal, situsnya www.cronullasurfschool.com sekiranya ada yang tertarik menelusuri lebih jauh. Setiap tingkat, ada lima, berlangsung 20 jam, sudah termasuk waktu briefing, pemanasan, dan surfing di laut. Mengenai tarif, saya pikir tak lebih mahal dari yang kita temui di Bali. Sedangkan membeli papan luncur (surfboard), wet suit (pakaian ketat untuk menjaga panas tubuh), juga investasi baik jika kita sungguh menyenangi surfing dan serius menekuninya.
Dan kekhawatiran saya bersumber, mungkin sekali, kepada fakta bahwa tinggal dan besar di Jakarta tidak memberi kelebihan dalam hal olahraga air. Tentu ada Ancol, namun akses ke olahraga air bukanlah milik publik luas.
Saya pun selama ini bukan seorang sportfreak; bisa berenang lumayan baik, namun untuk turun ke laut dan mencoba menaklukkan mother nature adalah perkara lain.
Dan pertemuan pertama, kami sekelas tampak jengah dan ragu-ragu. Instruktur kami Stuart, seorang Kiwi berasal dari Pulau Utara Selandia baru yang telah veteran menekuni surfing di penjuru Asia Pasifik. Ia meyakinkan bahwa belajar surfing adalah aman dan heaps of fun. Apakah kami harus memakan kata-katanya?
Stuart menuntun kami ke kolam renang terbuka, sekedar pemanasan dan mendemonstasikan teknik dasar surfing. Kami harus berenang 100 meter sesingkat mungkin, lalu paddling, dan fast turning (berbalik) sambil mengendarai papan. Saya sangat kagok dengan hal-hal ini. Surfing bukanlah hanya tentang meluncur di atas sebilah papan, tampaknya.
Di akhir pertemuan, kami menyeret papan luncur yang sangat besar ke tepi pantai, mencoba menangkap white breaks. White breaks adalah ombak bergulung yang telah pecah dan punya daya dorong ke arah pantai, warnanya putih karena banyak gelembung dan riak air. Saya pun tak berhasil mendapatkan "a ride" walaupun sebagian classmates tampak riang saat berhasil berdiri sejenak di papan yang meluncur. Baru seminggu kemudian saya bisa "melompat" di atas papan dan merasakan sensasi tak terkira meluncur deras di atas air.
Materi kelas tingkat pertama berisi: basic fitness for surfing, wave selection and timing, sport safe behaviour, maka banyak teorinya. Setengah jam pertama setiap pertemuan kami berdiskusi mengenai aspek keselamatan surfing, etiket tak tertulis di antara para surfers, konservasi laut dan pantai dan bahaya mengancam terutama satwa laut yang harus diwaspadai oleh surfers.
Boxing Kangaroo
Bluebottles
Stonefish
Stingray
Seasnake
Shark
Bicara soal fauna berbahaya, negeri ini bukan hanya mempunyai boxing kangaroo, bagi yang pernah melihat fotonya, kangguru petinju adalah nyata namun kini telah di-ilegalkan. Di daratan, Australia dengan anggun menempati posisinya sebagai negeri paling mematikan di dunia, enam dari 10 ular paling berbisa bercokol di negeri-benua ini. Sementara di perairan, kami "surfers in learning" (sebuah overstatement) dibekali pengetahuan ancaman: (1) si raja laut hiu, salah satu predator ter-agresif di piramida makanan laut lepas; (2) ubur-ubur, beberapa spesies dapat membunuh dalam tempo kurang dari setengah jam setelah toxin-nya beredar di tubuh korban, sedangkan satu tipe yang umum ditemui adalah "bluebottles" yang ber-tentacle biru brilian panjang hingga mencapai 10 meter; (3) ular laut; (4) stonefish, blue-ringed octopus yang dikenal memakan korban; (5) sea urchins, stingrays, ikan pari yang bisa pula menyengat.
Dari sekian mahkluk laut di atas, saya hanya pernah "bertemu" dengan dua: bluebottles, tiga kali saya disengat, dan walaupun sensasi perih di kulit tidak separah yang saya antisipasi sebelumnya, tetaplah sangat menggangu. Pun untungnya, saya hanya disengat di bagian kaki, bisa dibayangkan betapa sengsaranya bisa wajah Anda yang disambar oleh si tentacle biru. Untuk beberapa kasus ekstrim, si korban bisa mencari es batu untuk mengompres sengatan, atau menemui penjaga pantai untuk pertolongan.
Lalu yang lebih menyeramkan adalah, HIU. Suatu ketika kami tengah asik bermain-main di waktu "bebas", sambil mencari ombak yang asik, kami pun menjelajah laut (tak terlalu jauh dari pantai tentu saja). Mendadak terdengar riuh rendah tiupan bunyi monoton seperti suitan raksasa berasal dari pantai. Saya tidak emoh apa sih ini. Ada yang tengah bercanda membuat pranks dengan megaphone? Tak jauh dari saya ada dua remaja yang juga tengah asik paddling. Hey, what's that? Jawab mereka, It's a shark alert. Berarti di sekitar perairan pantai tersebut baru saja ada penampakan hiu. Dan saya pun panik, di benak terbayang headline untuk besok, Shark Attack claims One! Untungnya saya berhasil kembali ke off-shore dengan utuh. Surfers lain satu persatu pun mininggalkan teritori mereka, terasa aneh laut yg penuh dengan titik-titik hitam kini tampak polos.
Kali lain, kelas kami bersimulasi kompetisi. Sang instruktur membagi dua grup dan ada yang bertugas sebagai juri. Sedangkan si peserta harus menangkap ombak terbaik dalam tempo sepuluh menit.
Banyak sekali yang telah saya dapatkan melalui kelas surfing ini. Bisa dibilang surfing adalah "a personal journey" antara individu dan alam. Mana pernah saya menyangka bisa menyingkirkan fobia laten saya terhadap laut lepas, terombang-ambing dan ditempa terpaan ombak ganas setinggi dua meter, tanpa tekad besar mengikuti setiap instruksi yang diberikan; ada satu gadis muda yang keluar di minggu ketiga setelah tak mampu menghadapi ketakutannya terhadap laut. Lalu bertemu dengan teman-teman baru, mereka semua sangat ramah, bahkan dengan beberapa dari mereka kami pun seringkali pergi ke kafé atau sekedar piknik dan barbeque. Dan kesempatan menikmati keindahan suburb water-front Cronulla dari sudut eksterior dengan total kesunyian tanpa interupsi manusia lain, hanya saya dan alam.
Aspek terpenting sebelum memulai kelas adalah mengoleskan krim anti-UV, gunakan sunscreen sebanyak mungkin karena seperti kita ketahui penetrasi UV di Pasifik Selatan sangat intense. Untuk proteksi tambahan, kenakan rashie (kostum seperti kaos berbahan anti-UV). Wetsuit pun disarankan dikenakan untuk menghindari hipothermia dan menyaring UV. Dan unexpectedly, bagi saya ini cukup impressif, instuktur kami juga menggemari yoga dan pilates, hingga ia pun banyak menularkan gerakan dan posisi yoga/pilates sebagai bagian dari pemanasan/ perenggangan otot di atas pasir putih pantai.
Entah mengapa, kelas kami selalu berakhir with a bang. Level pertama, keadaan laut sangat tenang, tak ada ombak sedikitpun, kami pun diajak berpetualang, paddling di sepanjang peninsula. Panoramanya memang sungguh cemerlang tapi paddling hingga 90 menit di atas papan sangat menguras energi. Sedang kelas level dua, justru kebalikannya ombak besar menggulung tanpa henti. Sulit untuk melewati batas zona ombak pecah. "To get out there" adalah rintangan raksasa yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang lebih berpengalaman. Tentu saja rewards-nya pun memuaskan: bisa mendapatkan "green waves", ombak sempurna yang diidamkan setiap surfer. Atau bahkan "barrels" ombak berterowongan seperti di majalah-majalah surfing.
Di beberapa kelas terakhir, kami dididik sedikit mengenai "trimming" (melintas sepanjang ombak yang memanjang sehingga arah papan tidak statis) "turning" (menikung), "selecting waves" (memilih ombak hijau yang tepat), dan "timing".
Seusai kelas kami pun hampir selalu bersosialisasi, mencari makanan kecil atau kopi di kafe terdekat. Tak jarang arena yang lebih santai ini menjadi ajang rumpi akan situasi surfing hari itu. Dan karena kebanyakan classmates saya adalah anglosakson, mereka pun harus mengadakan barbeque. Ini biasanya di public park tak jauh dari klub surfing. Sayang seribu sayang, barbeque weekend kemarin tak bisa saya ikuti sebab komitmen pribadi. Sayang memang, saya tak bisa mengucapkan goodbye atau see you kepada classmates. Namun, weekend-weekend depan pun mereka akan mengorganisir surfing kelompok. Dan saya diundang. Harapan cuma satu, semoga air laut belum terlalu dingin. Hehehe. Dan moga-moga saya berkesempatan mengikuti kelas berikutnya - entah kapan? Surfing is a supremely cool sport.
ciauzzzz .........

I Tuei Racconti