Lundi 10 avril 2006 1 10 /04 /Avr /2006 12:43
Dan kelas surfing saya pun, untuk semester ini, akan berakhir Sabtu 8/4/06. Mungkin ada baiknya bila tulisan ini dapat didedikasikan kepada classmates saya, impian belaka karena mereka tak bisa berbahasa Indonesia.

Buatlah survey random, tanyakan apa image Anda terhadap Australia, negara berusia muda sangat terpencil dan seringkali bersikap awkward di kancah politik Asia Pasifik. Panjang pantai Australia, walaupun mungkin masih kalah dengan RI, adalah aset utama yang terkelola dengan baik. Dan bicara dengan pantai, kita bisa menerka ratusan tubuh semi polos yang berderet rapi setiap weekendnya untuk alasan untuk mendapatkan a bit of a tan yang tentu saja dianggap sangat chic di masyarakat Barat saat ini.

Kebetulan saya tinggal tak jauh dari Cronulla, suburb kecil di selatan Sydney yang mencuat (for all the wrong reasons!) akhir tahun lalu, menjadi buah bibir dan headlines media dunia, selepas kerusuhan Sydney Desember 2005.

Sedikit insight dari saya yang kebetulan pernah merasakan betapa menyenangkannya gaya hidup yang ditawarkan Cronulla. Cronulla adalah suburb terbentang di sebuah peninsula kecil eksklusif, rumah-rumah mewah gedongan berjejer di sepanjang teluk, berbaur dengan apartemen middle class dan highrise hotels yang kalau saja tidak dihentikan, mereka hendak mendirikan lebih banyak lagi pencakar langit. Residents Cronulla, setelah kerusuhan pun mendapat cap sangat buruk, sedikit banyak mereka dilabeli the face of modern white Australian racism. Padahal, perlu diketahui, sebagian besar perusuh adalah mereka yang tinggal di luar area ini, terdorong oleh konsumsi alkohol berskala besar di hari yang terik, emosi mereka pun lepas. Saya sendiri merasa aman-aman saja di zona ini, entah apa kekhawatiran teman-teman saya yang setiap kali bertanya, Are you okay in Cronulla? Plus, banyak lagi faktor-faktor pemicu kerusuhan lain yang tidak akan saya bahas kali ini; adalah tidak adil mengatakan Austalia rasist, karena semua bangsa (nation) di dunia, termasuk RI, memiliki elemen rasisme, tanpa kecuali.


Oktober 2005, saya mengambil keputusan besar. Sesuatu yang telah lama ingin saya coba akhirnya termaterialisasi di depan mata. Enam tahun di negeri wombat ini, tak pernah saya bernyali menjajal surfing yang dianggap bak "Australia's very own religion". Ingat motto 4S: Surf, Sun, Sand and ..x ??? Ah, saya hanya bergurau untuk yang terakhir, terserah interpretasi masing-masing.

Kesempatan emas yang dimaksud adalah, saya punya waktu luang dan menemukan tawaran kelas surfing yang ekonomikal. Kebanyakan Community College di sini mendapatkan subsidi dari pemerintah atau seringkali mereka bisa menawarkan kelas-kelas yang jauh lebih murah dari institusi privat.

Tak bisa disangkal, kelebihan surfing dibanding olah raga lain ialah ia menawarkan gaya hidup outdoorsy dan laid back, panorama laut, pantai, esplanade yang tak pernah membosankan setiap saat, bahkan mood kita pun bisa terombang ambing seiring deburan ombak. Plus, resto, kafe, gelateria, supermarket, tak ketinggalan memberi kemudahan melenyapkan dahaga beach-goers. Jangan bayangkan pantai Kalifornia dengan "body building on the beach" mereka karena kultur di sini tidak segarang itu. Sydneysiders lebih memilih melakukan aktivitas mereka low key tanpa harus pamer ukuran bisep dan trisep. Kegiatan populer lainnya ialah jogging di sepanjang esplanade sambil memuaskan mata dengan pemandangan Pasifik yang mencengangkan.

Kelas surfing yang saya ikuti berafiliasi dengan sekolah surfing lokal, situsnya  www.cronullasurfschool.com sekiranya ada yang tertarik menelusuri lebih jauh. Setiap tingkat, ada lima, berlangsung 20 jam, sudah termasuk waktu briefing, pemanasan, dan surfing di laut. Mengenai tarif, saya pikir tak lebih mahal dari yang kita temui di Bali. Sedangkan membeli papan luncur (surfboard), wet suit (pakaian ketat untuk menjaga panas tubuh), juga investasi baik jika kita sungguh menyenangi surfing dan serius menekuninya.

Dan kekhawatiran saya bersumber, mungkin sekali, kepada fakta bahwa tinggal dan besar di Jakarta tidak memberi kelebihan dalam hal olahraga air. Tentu ada Ancol, namun akses ke olahraga air bukanlah milik publik luas.

Saya pun selama ini bukan seorang sportfreak; bisa berenang lumayan baik, namun untuk turun ke laut dan mencoba menaklukkan mother nature adalah perkara lain.

Dan pertemuan pertama, kami sekelas tampak jengah dan ragu-ragu. Instruktur kami Stuart, seorang Kiwi berasal dari Pulau Utara Selandia baru yang telah veteran menekuni surfing di penjuru Asia Pasifik. Ia meyakinkan bahwa belajar surfing adalah aman dan heaps of  fun. Apakah kami harus memakan kata-katanya?

Stuart menuntun kami ke kolam renang terbuka, sekedar pemanasan dan mendemonstasikan teknik dasar surfing. Kami harus berenang 100 meter sesingkat mungkin, lalu paddling, dan fast turning (berbalik) sambil mengendarai papan. Saya sangat kagok dengan hal-hal ini. Surfing bukanlah hanya tentang meluncur di atas sebilah papan, tampaknya.

Di akhir pertemuan, kami menyeret papan luncur yang sangat besar ke tepi pantai, mencoba menangkap white breaks. White breaks adalah ombak bergulung yang telah pecah dan punya daya dorong ke arah pantai, warnanya putih karena banyak gelembung dan riak air. Saya pun tak berhasil mendapatkan "a ride" walaupun sebagian classmates tampak riang saat berhasil berdiri sejenak di papan yang meluncur. Baru seminggu kemudian saya bisa "melompat" di atas papan dan merasakan sensasi tak terkira meluncur deras di atas air.

Materi kelas tingkat pertama berisi: basic fitness for surfing, wave selection and timing, sport safe behaviour, maka banyak teorinya. Setengah jam pertama setiap pertemuan kami berdiskusi mengenai aspek keselamatan surfing, etiket tak tertulis di antara para surfers, konservasi laut dan pantai dan bahaya mengancam terutama satwa laut yang harus diwaspadai oleh surfers.

 
Boxing Kangaroo
 
Bluebottles

 
Stonefish

 
Stingray


Seasnake

 
Shark

Bicara soal fauna berbahaya, negeri ini bukan hanya mempunyai boxing kangaroo, bagi yang pernah melihat fotonya, kangguru petinju adalah nyata namun kini telah di-ilegalkan. Di daratan, Australia dengan anggun menempati posisinya sebagai negeri paling mematikan di dunia, enam dari 10 ular paling berbisa bercokol di negeri-benua ini. Sementara di perairan, kami "surfers in learning" (sebuah overstatement) dibekali pengetahuan ancaman: (1) si raja laut hiu, salah satu predator ter-agresif di piramida makanan laut lepas; (2) ubur-ubur, beberapa spesies dapat membunuh dalam tempo kurang dari setengah jam setelah toxin-nya beredar di tubuh korban, sedangkan satu tipe yang umum ditemui adalah "bluebottles" yang ber-tentacle biru brilian panjang hingga mencapai 10 meter; (3) ular laut; (4) stonefish, blue-ringed octopus yang dikenal memakan korban; (5) sea urchins, stingrays, ikan pari yang bisa pula menyengat.
Dari sekian mahkluk laut di atas, saya hanya pernah "bertemu" dengan dua: bluebottles, tiga kali saya disengat, dan walaupun sensasi perih di kulit tidak separah yang saya antisipasi sebelumnya, tetaplah sangat menggangu. Pun untungnya, saya hanya disengat di bagian kaki, bisa dibayangkan betapa sengsaranya bisa wajah Anda yang disambar oleh si tentacle biru. Untuk beberapa kasus ekstrim, si korban bisa mencari es batu untuk mengompres sengatan, atau menemui penjaga pantai untuk pertolongan.

Lalu yang lebih menyeramkan adalah, HIU. Suatu ketika kami tengah asik bermain-main di waktu "bebas", sambil mencari ombak yang asik, kami pun menjelajah laut (tak terlalu jauh dari pantai tentu saja). Mendadak terdengar riuh rendah tiupan bunyi monoton seperti suitan raksasa berasal dari pantai. Saya tidak emoh apa sih ini. Ada yang tengah bercanda membuat pranks dengan megaphone? Tak jauh dari saya ada dua remaja yang juga tengah asik paddling. Hey, what's that? Jawab mereka, It's a shark alert. Berarti di sekitar perairan pantai tersebut baru saja ada penampakan hiu. Dan saya pun panik, di benak terbayang headline untuk besok, Shark Attack claims One! Untungnya saya berhasil kembali ke off-shore dengan utuh. Surfers lain satu persatu pun  mininggalkan teritori mereka, terasa aneh laut yg penuh dengan titik-titik hitam kini tampak polos.


Kali lain, kelas kami bersimulasi kompetisi. Sang instruktur membagi dua grup dan ada yang bertugas sebagai juri. Sedangkan si peserta harus menangkap ombak terbaik dalam tempo sepuluh menit.

Banyak sekali yang telah saya dapatkan melalui kelas surfing ini. Bisa dibilang surfing adalah "a personal journey" antara individu dan alam. Mana pernah saya menyangka bisa menyingkirkan fobia laten saya terhadap laut lepas, terombang-ambing dan ditempa terpaan ombak ganas setinggi dua meter, tanpa tekad besar mengikuti setiap instruksi yang diberikan; ada satu gadis muda yang keluar di minggu ketiga setelah tak mampu menghadapi ketakutannya terhadap laut. Lalu bertemu dengan teman-teman baru, mereka semua sangat ramah, bahkan dengan beberapa dari mereka kami pun seringkali pergi ke kafé atau sekedar piknik dan barbeque. Dan kesempatan menikmati keindahan suburb water-front Cronulla dari sudut eksterior dengan total kesunyian tanpa interupsi manusia lain, hanya saya dan alam.

Aspek terpenting sebelum memulai kelas adalah mengoleskan krim anti-UV, gunakan sunscreen sebanyak mungkin karena seperti kita ketahui penetrasi UV di Pasifik Selatan sangat intense. Untuk proteksi tambahan, kenakan rashie (kostum seperti kaos berbahan anti-UV). Wetsuit pun disarankan dikenakan untuk menghindari hipothermia dan menyaring UV. Dan unexpectedly, bagi saya ini cukup impressif, instuktur kami juga menggemari yoga dan pilates, hingga ia pun banyak menularkan gerakan dan posisi yoga/pilates sebagai bagian dari pemanasan/ perenggangan otot di atas pasir putih pantai.

Entah mengapa, kelas kami selalu berakhir with a bang. Level pertama, keadaan laut sangat tenang, tak ada ombak sedikitpun, kami pun diajak berpetualang, paddling di sepanjang peninsula. Panoramanya memang sungguh cemerlang tapi paddling hingga 90 menit di atas papan sangat menguras energi. Sedang kelas level dua, justru kebalikannya ombak besar menggulung tanpa henti. Sulit untuk melewati batas zona ombak pecah. "To get out there" adalah rintangan raksasa yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang lebih berpengalaman. Tentu saja rewards-nya pun memuaskan: bisa mendapatkan "green waves", ombak sempurna yang diidamkan setiap surfer. Atau bahkan "barrels" ombak berterowongan seperti di majalah-majalah surfing.

Di beberapa kelas terakhir, kami dididik sedikit mengenai "trimming" (melintas sepanjang ombak yang memanjang sehingga arah papan tidak statis) "turning" (menikung), "selecting waves" (memilih ombak hijau yang tepat), dan "timing".

Seusai kelas kami pun hampir selalu bersosialisasi, mencari makanan kecil atau kopi di kafe terdekat. Tak jarang arena yang lebih santai ini menjadi ajang rumpi akan situasi surfing hari itu. Dan karena kebanyakan classmates saya adalah anglosakson, mereka pun harus mengadakan barbeque. Ini biasanya di public park tak jauh dari klub surfing. Sayang seribu sayang, barbeque weekend kemarin tak bisa saya ikuti sebab komitmen pribadi. Sayang memang, saya tak bisa mengucapkan goodbye atau see you kepada classmates. Namun, weekend-weekend depan pun mereka akan mengorganisir surfing kelompok. Dan saya diundang. Harapan cuma satu, semoga air laut belum terlalu dingin. Hehehe. Dan moga-moga saya berkesempatan mengikuti kelas berikutnya - entah kapan? Surfing is a supremely cool sport.

ciauzzzz .........
Par surfeur australe - Publié dans : australissimo
Ecrire un commentaire - Voir les 11 commentaires
Lundi 10 avril 2006 1 10 /04 /Avr /2006 03:32
Coogee 1 Coogee 2
I wish the pictured dude was me, but it wasn’t. The city of Opera by the Harbour had one of the largest swells in decades. And no surfers and surfettes, gromets and gromettes could ask for more.



Kalau saja saya seorang yang percaya tahayul, mungkin saya telah berujar dalam diri, Nyai Loro Kidul tengah berlibur di pesisir Wales Selatan Baru [dengan maskapai  mana, atau kapal pesiar, Nyai?]. Tiga weekend terakhir, laut Tasman bergolak liar dan efeknya hingga ke off-shore, ombak raksasa setinggi pohon palem menghentak.

Sabtu pagi 8/04/06: hari masih muda, udara beku asik menggigit kulit. Pukul 8 pagi teng, kami  pun terjun untuk kelas surfing terakhir term ini. Dan saya yang cupu ini pun tidak berhasil bergabung dengan classmates untuk paddling out the back, ombak setinggi lebih dari dua meter bertubi-tubi menerpa pesisir, lalu berdebur dan menghantam deras setiap manusia yang mencoba melewatinya. Kadang, bahkan, dua ombak saling beradu, cipratan air melompat di udara, dan kami terjebak di antaranya.

Belum lagi pusaran air yang menggila, kami terseret bak kertas terdampar di mesin cuci yang menyala. Dan tampaknya ini seanalogi dengan air bah di Aceh oleh tsunami, kisaran air gelombang laut benar-benar terlalu perkasa.

Us versus Mamma Nature? Yea right.

Par macchi - Publié dans : australissimo
Ecrire un commentaire - Voir les 2 commentaires
Dimanche 9 avril 2006 7 09 /04 /Avr /2006 03:42

Love me hate me adore me but baby, I'm a chilli lover. No point in denying that.

I guess growing up in a South East chilli-embracing Asian nation, your mum has a pretty good chance taking part in the statistic where the mainstream mothers start introducing this potent veggy to their toddlers at a shockingly tender age -as young as two/three years old- this will send shivers down the back of most Westerners.

Where I live now, our backyard (in South of Sydney) isn't too  shabby, I guess. It may not be your average Anglosaxon backyard but at least it's good enough for growing
organic chillies (only natural manure, please). Oh the joy of picking  those pure fresh c h i l l i ... just before chopping and serving it à la naturale or dumping it in my stir fries. Can't get any chillier than that aye. Sadly the house is now up for sale, and my precious chilli plants are included in the package. So gotta say adios amigos.

Contrary to popular belief, that most people in Asia luurrv their taste bud annihilated to oblivion [well ok, this may have some good portion of the reality] ... chilli is not from Asia, there ya go I said it, I'm sorry but it's not ours. Basta.

Its south American origin may be justified through their cuisine, I'm no taco buff but those South American nosh look red-hot enough to me they gotta contain a helluva of the fiery stuff to slaughter an uninitiated diner.

My very own chilli collection stands at the moment as: (1)
Asian bird-eye red, (2) long slender red (pictured above resting on my palm), (3) red keg it's so tiny I normally don't bother with it, and (4) habanero the grand daddy of all chilliers (chillier a french-english term for a chilli tree ^^). Whereas the first two gained 7 out of 10 on the hotness scale, a slice of habanero of a perfect 10 will send you to the nearest water fountain. I rarely and sparingly use it in my cooking. Way too hot, mes amis.

Habanero on Wikipedia



The habanero chile (Capsicum chinense Jacquin) (Spanish, from Havana) is the most intensely spicy chile pepper of the Capsicum genus. The Red Savina is a cultivar of the habanero pepper, and has been tested and certified as the "World's hottest spice" and is listed in the Guinness Book of Records... originated in Cuba, it is nonetheless an important part of cuisine in the Yucatán peninsula, where it is often served roasted as a condiment with meals.

+++ And the million Peso question is, How does one enjoy a daily snack served with the hottest chilli on Earth? +++




Dan kelas French saya pun masih berlangsung menyenangkan. Salah satu highlights-nya adalah «pause café», kami mengambil break menikmati pastries, kue, dan biasanya selalu ada baguette & fromage yang dibawa oleh classmates bergiliran.

Giliran saya jatuh tanggal 6 Mei. Walaupun sudah wanti-wanti kepada Prof saya, Rita, bahwa sulit buat saya yang tinggal jauh membawa "bekal" decent ke kelas, tapi tetap saja nama baik pribadi menjadi taruhannya. Rita bilang, tidak perlu menyediakan yang ekstravagan, sesuatu yang kecil dan ringan saja.

As if! Selama ini classmates telah membawa, beh ... kemarin Irene, seorang classmate ibu-ibu ramah berusia 70-an, membawa our favourite by popular vote: Pissaladière, sebuah pastry specialty Nice (South of France) beradonan crusty semi-pie-semi-pizza, dan bertabur kalamata, anchovies, di atas gelombang sundried tomatoes kental. Sedang classmates lain sering membawa home-made cakes, aniseed flavour thank you very much, atau fig on date (oalah lezatnya). Yang pasti, setiap sajian selalu berusaha tampil beda.

Pilihan saya ada dua: membawa sesuatu yg etnik, non-French maksudnya, dengan risiko tidak disukai atau malah digila-gilai. Dan nominasi saya, karena itu kelas siang di mana sebagian classmates masih ber-apetite besar, gado-gado (ada bumbu siap jadi di dapur, tinggal tambahkan air panas dan peanut butter).

Opsi lain, Tiramisu, mungkin ini lebih kompleks, tapi suatu ketika tahun lalu kami mencoba membuatnya di kelas Italian dan tidaklah buruk (dlm tempo 2 jam). Dan bahan-bahannya pun bisa dicari di superkampret. Maka, sambil menyelam minum air, supaya tidak lupa membuat resep ini, saya pun bisa mencengangkan classmates.

Atau hm ... adakah ide lain? Makanan atau penganan khas RI yang gampang dan cepat membuatnya, untuk sekitar 12 orang. Lupakan mpek-mpek dan otak-otak karena saya tidak berniat mengerat daging ikan dan membuat adonan yang rumit dan berisiko gagal besar.

Ah kalau saja saya bisa menyajikan Tahu Sumedang dengan bumbu cabe pedas. Lezat dan tepat untuk konsumsi massal. Tapi classmates anglosakson saya tau-tau tepar seketika di kelas (dan saya digiring ke kantor keamanan?) atau keesokan harinya mereka harus menyambangi toilet setiap sepuluh menit. Kan berabe.

Boh ...

Addendum: baru saja terlintas, bubur kacang ijo, atau bubur ketan item. Voilà. Mudah murah meriah eksotik manis pengganjal perut di siang hari terik berudara dingin.
Par I'm no Chilean, buddy! - Publié dans : amuse-gueule
Ecrire un commentaire - Voir les 9 commentaires
Jeudi 6 avril 2006 4 06 /04 /Avr /2006 02:29

Who Wants To Be A Squeezemellionaire :
Buat mereka yang merasa mapan pengetahuan umum-nya, mengapakah dunia menyebut era "renaissance"sebagai "la renassaince" dengan istilah Perancis, sementara the Italians sendiri, sebagai pelopornya, membawa pandu "Il Rinascimento" yang anehnya jarang dikenal. Keduanya berarti
rebirth. Tapi mengapa istilah aslinya malah tidak populer ... ? Hayoooh.

The birthplace of the Renaissance, Florence - Firenze

 
     
Dan mereka bilang: if can't beat em', join em' ...

Lama-lama saya merasa bak penadah foto. Oleh ketidakmampuan sendiri, maka foto-foto "superb" milik orang lain pun harus dipinjam/ditilep tanpa izin. Beh ....

Mungkin udah saatnya belajar, ambil kelas, fotografi ??? Jeprat-jepret kiri kanan ...........  


Bicara tentang fotografi, seorang teman dari seorang teman …

Adalah Koman Tam, berusia dua tahun lebih tua dari saya, kini menggeluti doktorat bidang kimia di Sydney Uni. Tiga tahun terakhir ini, ia pun tergila-gila dengan dunia fotografi.

Bahkan, demi "hobby kecil"nya, studi PhD-nya «sedikit» terbengkalai.

Sedikit … ?

Err  ............

Koman, student asal Hongkong, di mata saya adalah seorang akademis sejati. Ia tak kenal lelah belajar. Selepas bachelor degree-nya, ia menyelesaikan master degree’s tanpa jeda. Namun, untuk doktorat ini, ia malah keteteran.

Alasan, di tengah-tengah period studinya, ia berujar, “I’ve decided to be a professional photografer. It’s more fun”. Oh, right.

Boh, saya bukan nyokapnya, bukan pula teman terdekatnya. Punya hobby adalah baik, tapi jikalau sampai ia menelantarkan studi utamanya, DOKTORAT, di salah satu universitas terkemuka di negeri ini, plus partial scholarship di pundaknya, menurut saya malah tidaklah logikal.

Di posisinya, saya akan berpikir “lebih baik selesain studi ini dulu. Hobi fotografi tidak akan lari, besok-besok pun masih bisa dikejar”. Fotografi pun bukan bidang yang mudah, kalo kita ber-talenta besar, tanpa portfolio yang impressive, semua usaha akan hangus.

Apalagi, dengan status student internasional-nya, setiap kali Koman Tam meminta ektensi deadline doktornya, ia tetap harus membayar uang studi – yang jumlahnya tentu saja amit amit. Dan keluarganya yang selama ini masih harus membiayainya! Kasian kan.

Kronologi: tenggat PhD-nya Maret 2005.
Diperpanjang : hinggi kini, terakhir saya dikabari 6 bulan lagi - sekitar Oktober 2006. Ekstensi terakhir. Tanpa kecuali dari pihak Sydney Uni.
         
Par macchi - Publié dans : c'est fou ça!
Ecrire un commentaire - Voir les 3 commentaires
Mercredi 5 avril 2006 3 05 /04 /Avr /2006 09:20

Scusate, dovrei far il ragazzino:

Musim gugur mengendap-ngendap dan seperti biasa berkonsekuensi, akibat tiupan angin kering, udara bertemperatur ombang-ambing, kulit bibir pun mengering dan pecah-pecah.

Housemate «Hey, what's wrong with your lips. Where's your lipbalm?»

Mah ... emang saya kurang rajin apa menyolek-nyolek lipbalm bahkan sampe dikira pesolek di kereta. Minimal tiga kali sehari itu balsem bibir diolesin (kurang resep dari dokter aja)- dari yang model batangan, olesan, hingga kucrutan (duh, terminologinya! euh ... maksudnya tipe
squirt gitu) semua udah dipake.

Tapi gimana lagi, ini problema musiman, setiap ganti angin, ganti iklim, bibir ikut pecah. Dan seperti kamu ketaui, ini bukan kondisi yang direkomendasikan oleh para medis dari segi estetika maupun psikologis. Euh yeah, ... whateva.

Adakah saran dan gagasan?


Par si malang - Publié dans : affogato
Ecrire un commentaire - Voir les 13 commentaires
Créer un blog gratuit sur over-blog.com - Contact - C.G.U. - Rémunération en droits d'auteur - Signaler un abus