Publicité

amuse-gueule

Vendredi 14 octobre 2005

...

boh, tampaknya gue mesti bikin kategori baru « makanan » krn, spt org2 lain umumnya, gue nemuin makanan2 lezat. dulu di kls french gue pun begitu, dua semester pertama itu bicarain  makanan, volumenya banyak bgt dan beraroma eksotik. skrg juga masih eksotik sih. resto french mahal bgt euy, setidaknya itu anggapan umum. dan biasanya bener.

resto terbaik di sydney, tebaklah, mereka mengedepankan french cuisine. ada satu yg super top, terkenal, 10 courses (ketara banget ini bukan becandaan, LOL) di Sydney CBD namanya « Tetsuya's » elo bisa cari di google. Tetsuya's mengutamakan fusion cuisine, tapi berbeda fusion2 jadi-jadian ikut-ikutan lainnya, Tetsuya's kabarnya bener2 sublime kombinasi japanese dan french cuisine-nya. Kebayangkah resto jpn kan lebih sering daripada jarang mahal2, plus resto french yg juga mahal2, digabungin jadi mahal-mahal-mahal-mahal (LOL, mantep kan analogi tukang bangunan gue). Dipublikasikan beberapa hari lalu, katanya Tetsuya's resto ke-4 terbaik sedunia. Gue ngga bisa bilang iya atao ngga krn sampe saat ini gue blm sanggup fork out dua ratus bucks buat pengalaman satu malam tak terlupakan (refer to ten courses!) Temen gue, Rosalia, bilang "you better come in to Tetsuya's with an empty stomach, mate" LOL. Resto terkemuka lainnya « Guillaume on Bennelong » ditilik namanya bisa diduga itu resto french, lokasi : di opera house, menang lokasi juga kali euy.

anyhow, balik ke bumi, semalem gue ke pizzeria di bondi dg dua temen - untuk buka puasa bareng. ah seneng ati. kita ngga mesen antipasto, hmm... kayanya ngga liat kategori ini di menu-nya, tapi gpp, lagipula gue ngga berani propose "melone dan prosciutto" LOL. jadinya garlic bread dg cheese, boh cheesenya lumer2 di permukaan crusty-nya. kita ambil meja alfresco yg di trotoir, maitre d' -nya sok gaul, flirting2 dg waitress resto sebelah "oo i don't know what it is, but you really look magnificent tonight" LOL. awalnya servicenya biasa2 aja, untuk primo piatto gue pilih pasta al vengolo, dan pizzanya temen gue yg putuskan dan gue ngga masalah. tapi menjelang akhir, mungkin krn kita pesennya minimal ngga ekstravagant spt diners lainnya (ah lagipula restonya juga sepi, dan kami bertampang student) baru aja kelar lap2 mulut dg serviette, masa piring2 dan gelas mulai diangkut2. bah... lalu lima menit kemudian, maitre d' kunyuk itu bersiin dan nata meja kami untuk diners berikutnya, oooi, kami masih di sini masih ngobrol2. krn udah ngga enak, cabut dan gue ngga bersedia ngasih tips atao beramah tamah sama sekali - bahkan gue ngga bilang makasih sekalipun. bayar dan cabut.

buat mereka yg tinggal di sydney, berati-atilah, jgn beri ati, jgn beri tips kalo elo dine di « papa giovanni » pizzanya mungkin enak tapi servicenya bisa sucks berat LOL. apa gue nulis ke rubrik outing / kritik resto di surat kabar yah, biasanya dg cara ini baru bisa ngefek dan mereka ngeliat dan ngerasain impact  kebodohan mereka sendiri.

The Manager, Papa Giovanni
We reckon your service is fecken crap.

...

Par macchiato
Ecrire un commentaire - Voir les 4 commentaires - Recommander
Mardi 25 octobre 2005

...

Boh, keajaiban terjadi. Akhirnya gue kirimkan sepucuk surat keluhan ini ke resto italian tsb dan siang tadi gue ditelp oleh si manager meminta maaf atas nama manajemen papa giovanni. Lalu dia bilang mereka akan kirimkan gue credit letter. About time!

He he, mengeluh itu kdg berguna dan berbuah. Dulu bgt, pertama kali starbucks buka di sini, servicenya juga sucky2, mungkin staffnya udah cape malem itu jadi nunggunya lamaaaa bet 45 menit buat frappé butut, dan gue kirim complaint – tau2 dikirimin starbucks voucher.

Mengeluhlah dan kau akan melihat hasilnya.





The Manager 

Papa Giovanni
172 Campbell Parade
Bondi

Dear Manager

I have been a loyal customer of Papa Giovanni for many years as I find the meals great and the ambience amicable.

Two friends and I dined at your establishment on Thursday 13 October 2005 as I have told them about your reputation. We chose to sit in the alfresco area.

This time however I find the service was disgraceful. We had just finished our meals when one of your staff came round and started picking up the dinnerware off our table. About five minutes later, the Maitre D’ came over to clean our table and and get it ready for the next diners – all this whilst we were still digesting our food and pouring water into our glasses.

No, we didn’t order extravagantly like the customer at the next table – we were not that famished that evening. No, we didn’t order a bottle of wine – my friends do not drink alcohol. However, that’s really no excuse to treat your customer like some vagrants from the street asking for leftover. We paid the full price for our meals.

We would just like to inform you that we find the service at your restaurant abominably appaling, we feel we have had better service at hawker food restaurants in Asia . Please be assured that I will cease to be one of your regular customers and that I can no longer recommend your restaurant to my friends and colleagues.

Please find attached our receipt check #109375-1.

Par macchiato
Ecrire un commentaire - Voir les 2 commentaires - Recommander
Lundi 5 décembre 2005
[ *Barbie, one of the quintessential modern Aussshtralian  icons! ]

...

Dan Sabtu siang, selepas kelas surfing, Stuart si instruktur New Zealander membawa kami ke Shelley Park, sebuah park kecil berjarak 20 menit dari klub Life Saving di mana kelas kami berkumpul pagi harinya, untuk ber-barbeque.


Krn kami hanyalah «classmates» yg tidak begitu saling kenal selama 7 minggu terakhir ini, sistem bbq kali ini BYO.  Yg dikenal dg BYO «  Bring Your Own » adalah sistem "bawa sendiri" saat elo bermakan malam di restoran tertentu yg mengijinkan diners tidak harus membeli alkohol in situ, biasanya yg dibawa minuman alkohol, umumnya wine, bir justru dilarang, dan resto tsb  mengenakan cork charge per head.

Namun, BBQ kami demi alasan kepraktisan mengharuskan kami beli daging yg siap santap, sesuai selera sendiri, tinggal beritau sang butcher dan voilà ...! Sebagian classmates gue pun mampir ke bottleshop (liquor shop, off licence bagi yg akrab dg UK/ US terms) dg menggandeng a six-pack (six pack = satu pack berisi 6 stubbies, 330ml, beer) dan berjalan beriringan dg senyum sumringah.

Naasnya, Shelley Park ternyata cuma punya satu bbq publik dg tiga papan panggangan. Dan ketiganya dikuasai mafia Pasifik. He he.. ngga deng, ada keluarga Pacific Islander yg tengah ber-reuni, kumpul2 en masse. Dan mereka rada aneh. Masa bukan cuma memanggang makanan secukupnya, layaknya keluarga normal, tapi selesai makan siang, mereka, bapa2nya terutama, masih tancep terus di depan kompor, cuek bebek bak film slapstik, container demi container dikeluarkan dan ayem, steak, sosis, ribs, kebabs semua mereka bakar.  Boh ... spekulasi gue: keluarga ini hendak menghemat tenaga dan bill listrik bulan depan, pake fasilitas umum tanpa keluar duit sepeser bodong pun, tanpa mesti cuci cutlery kalo di dapur sendiri! Ide super brilian cemerlang.

Parks di sini rata2 dilengkapi fasilitas umum memadai. Local council menghabiskan budget besar untuk mendanai mulai dari sistem persampahan dg tong berbagai warna untuk sampah daur ulang, organik, plastik, kertas, dll; public benches, picnic tables, gazebos, bahkan amphitheatre kecil untuk konser mini. Kompor barbeque di kota-kota besar, SYD, MEL, BRIS, umumnya digratiskan total, tinggal memencet satu tombol untuk menyalakannya. Ada juga fasilitas bbq yg mengharuskan kita membayar sekeping logam, mulai dari 20 cents hingga 2 bucks, untuk menyalakannya, misal di national parks, recreation area dll.

Ya uis, gue tinggalkan dg beberapa imagi untuk mengilustrasikan tipe-tipe bbq yg umumnya ditemui di tanah australis:

[ *Barbie = AUS short for barbeque! ]



Bbq publik, mudah dijumpai di taman-taman dan area rekreasi keluarga.


Bbq tipe perumahan, biasanya terbuat dari batu bata dan sekeping seng, di backyard gue pun ada satu.


Klik gambar di atas untuk penjelasan menyeluruh!
Bbq modern, tipe elektrik, biasanya berfungsi bak griller. Lebih praktis, portable, dan mudah dinyalakan.

«Ooooiii ... Davoo, chuck more prawns on the barbie, mate!»
Par macchiato
Ecrire un commentaire - Voir les 5 commentaires - Recommander
Vendredi 6 janvier 2006
...

Setelah melepas status pelajar, memasak bagi gue adalah suatu kegiatan yang mustahil, terlalu menyita waktu dan pikiran. Maka bila proses masak akan menyita waktu lebih dari satu jam di belakang kompor baah... pikir tujuh kali. Dan kadang memasak untuk satu orang (sendiri) bikin males dibanding masak untuk dua/tiga atau untuk bekal lunchbox buat besokannya.

Sebagai suku Asia normal umumnya, gue mencari menu dengan unsur nasi minimal setiap beberapa hari sekali. Sayangnya kadangkala keabisan ide ... pff ... boh... apa lagi yang bisa dibikin selain nasi goreng, nasi putih dan variasi lauknya (yang tentu saja alternatif paling fleksibel). Secara tak disadari, gue mulai melirik beberapa plates eksotis yang tampak mouth-watering di mata dan excruciatingly-scrumptuous di lidah, setelah terinspirasi oleh kunjungan ke resto berkualitas baik.

Risotto dan Paella adalah menu heaven-sent buat gue. Naturalmente si. Paella sayangnya tampak rumit dengan segala persiapan seafoodnya. Tapi lezat kok, saya selalu sigap untuk menerima undangan festa di paella. Kapan pun.

Dan Rosalia berujar, No no no ... it's really quick and simple to dish up a risotto you know. Dan dia pun meng-emailkan resepnya. Di bawah adalah cuplikannya dengan editan minimal.
nota bene:
1. wine opsional; a
yam bisa disubstitusi dengan bahan lainnya.

2. versi lainnya, yang lebih gue gemari, adalah dada ayamnya digoreng terpisah sehingga garing dengan sedikit
crust plus diberi daun rockett saat disajikan di piring.

Allora, mamma mamma, cuoca per noi ...



Carissimo Xxxx
 
Ricetta Risotto alla Rosalia,
 
con Pollo e funghi
per 4 persone
 
 
2 cups arborio rice
2 - 3 cups chicken stock - prepared
1 cup of white wine
1 onion - finely chopped
1 clove of garlic - crushed small
2 tablespoons olive oil
250 grams chicken - breast/ thighs - finely cut into small pieces
2 cups of chopped mushrooms
1 tablespoon - butter (not margarine)
salt
pepper
1 teaspoon grated parmesan cheese - serving
 
- heat up oil in saucepan on a low to medium setting,
- add onions/ garlic - stir  till soft, not golden,
- add chicken and stir until cooked, adding salt/ pepper,
- add 1 cup rice - stir, adding 1 cup of stock - stir, add the other cup of rice, then stock and stir for 5 mins.
- add wine, additional stock, stir ,add mushrooms and stir.
- let it cook slowly, adding more wine/ stock if drying - make sure to stir regularly
- after approximately 20 - 30 mins - this should be ready, add in butter and stir before serving.
 
 
With regards to cooking time, this can depend if you have a gas/ electric stove.
Risotto must never be cooked on a med - high setting, it must be cooked slowly, stir regularly or the rice will not cook properly.
Make sure plenty of fluids - (stock/ wine) in the mixture, or it will dry up.
 
 
Serve with grated parmesan cheese sprinkled on top of risotto.
 
Buon appetito
 
Rosalia
 
Ci vediamo il sabato mattina - ciao
Par macchiato
Ecrire un commentaire - Voir les 3 commentaires - Recommander
Samedi 7 janvier 2006
Sebagai seorang Italo-francophile mau ngga mau suatu ketika pasti bakal berpapasan dengan the Slowfood Movement.

Di Web udah banyak sekali informasinya. Dan ini giliran gue mengulik sedikit tentangnya ... setelah kemarin pagi gue masuk McShit (che peccato!) dan membeli satu McMuffin dan satu hashbrown buat sarapan di tepi pantai liat deburan ombak menghantam shoreline, at no charge.

Situs Slowfood sendiri tidak mengklaim mereka anti Amerika, tapi sepanjang pengetahuan dan ingatan gue, "movement" ini adalah bentuk modern "resistensi" perlawanan terhadap imperialisme Amrik terutama kontra si gurita dengan arch-M kuning raksasa. Lakukan riset di google kalau tidak percaya.

Didirikan oleh seorang Italian di sekitar mid-80s, ia kini meluas ke penjuru dunia hingga ke USA sendiri (pastinya dari 300 juta lebih Americans -dengan tingkat obesitas tinggi di dunia- adalah satu dua odds yang sadar kesehatan akan makanannya). Tapi dua basis besarnya hingga kini tetap Italia dan France. Tujuan utama mereka mempromosikan produk alimentari ekologis lokal berkualitas prima tanpa sentralisasi dan standarisasi rasa (boaah .. benar-benar anti fastfood amrik bukan? LOL). Kini, orginisasi ini telah mempunyai studi universitas khusus, Universita' e Agenzia di Pollenzo.


Sayangnya hingga kini gue belum berkesempatan untuk jajal resto, taverna, locanda atau yang lainnya yang menawarkan slowfood di establishment mereka. Alasan, karena gue belum jelajah France dan Italia secara ekstensif. Belum, semoga segera. Ada pun convivia australis, tapi lokasi anggotanya jauh dari kota gue tinggal - gimana dong.

Di desa kecil di France, suatu ketika komunitas desa tersebut yang bermayoritas petani dan peternak tradisional melakukan protes terhadap aplikasi pajak 100% atas produk foie gras dan keju Perancis yang hendak masuk ke US - ingat, desa ini berspesialisasi jenis keju tertentu yang tidak dibuat di tempat lain (keju tradisional itu biasanya pungent!). Ujungnya tidak banyak yang bisa mereka lakukan, lalu sang kepala desa dengan konsensus penduduknya, desa tersebut menerapkan vendetta mereka sendiri: semua produk coca cola di desa tersebut dikenai pajak yang sama besarnya. Dan dari desa kecil, kisah perlawanan mereka dipublikasikan ke seluruh dunia.

Di Italia mereka tidak kalah bangganya. Gue tengah baca buku travelogue seorang wanita  Londoner yang membeli dan menjadi petani olive farm di Liguria. Orang-orang tua dan muda di desa tersebut dengan berapi-api mendiskusikan dukungan mereka terhadap il sloofud - LOL, lucu nian Italians yang tidak mengucapkan slowfood secara benar.

Dan artikel di bawah ini - dikutip dari SMH- memberi satu angin segar bahwa the slowfood movement mulai menunjukkan hasil positif. In yer face, McCrap !


*nb. pelurusan fakta: bisa dibilang gue masuk McShite lumayan jarang, biasanya buat beli mcmuffin doang (saat ada kelas sabtu pagi tahun lalu). hingga kini, seringkala
guilty pang menyergap setelah transaksi selesai. tapi semua masih terkontrol kok; gue dan housemates belum terbuai oleh fausse campagne mereka dengan inklusi salad dan verietas sayuran hijau, serta kantong kertas yang kini berubah wajah (dengan gambar sayur-sayuran segar bak baru keluar dari kulkas) LOL.



La dolce vita, no fries, coming up

By
Desmond O'Grady in Rome
January 7, 2006

A BAKER who put a McDonald's out of business has become a hero of Italy's Slow Food movement, which champions the relaxed enjoyment of eating as a pillar of the country's way of life.

The McDonald's ran into big trouble when Luca DeGesu opened a bakery next door specialising in local products.

Altamura, in the heel of Italy's boot, is renowned throughout the country for its bread. It is yellow, made from durum wheat, and has a crunchy black crust. The DeGesu family has been baking it for five generations.

But Luca DeGesu did not plan to run McDonald's out of business when, five years ago, he opened an outlet next to the fast food business in Altamura's main square. He just wanted to earn a crust. As well as bread, he made pizza using local olive oil and baked with a particular kind of oak in the oven.

It was a David versus Goliath contest because McDonald's had 10 staff and Mr DeGesu, 35, was a one-man show.

But he won - and his success has been welcomed by the country's Slow Food movement, as well as the newer Slow City movement, which wants to preserve historic city centres by excluding traffic and conserving small shops.

Suspicion of big food corporations is nothing new in Italy. For the past decade the administration of Abbiategrasso, near Milan in the north, has banned supermarkets. Thanks to this, its small shops have thrived.

Mr DeGesu's success stems from his championing of local products. They are becoming ever more appreciated in Italy, as are foods grown without chemicals.

The trend may not knock out many of the 310 McDonald's in the country, or supermarkets, but it is affecting them: supermarkets now carry a greater variety of breads, and some fast-food joints are introducing local dishes.

Meanwhile, back in Altamura, Mr DeGesu has doubled his staff to two and is talking of opening a bakery-pizzeria in Rome. Next could be a McGesu chain.

Par macchiato
Ecrire un commentaire - Voir les 4 commentaires - Recommander
Créer un blog sur over-blog.com - Contact - C.G.U. - Rémunération en droits d'auteur - Signaler un abus