Tu vuò fa l'Americano!
Terinspirasi oleh tulisan Tari ttg musik Italia yg sering kesaru atao disaru menjadi musik US. Gue ngga link ke blog-nya krn gue ngga tau diijinkan atao ngga [ Ciao Tari, come va? ] ... hehe
Boh ...
Itu bener bgt. Gue aja sampe keheran2.
Awalnya kala gue denger lagu atao musik Italia, gue berpikir "hey hang a sec, heard this before, aint this ...." dan gue terkelabui. Bego bgt dah gue.
Quando, Quando, Quando
Buonosera Signorina
Gue dg bloonnya nanya ke temen Italian gue, « err, so these are originally Italian songs yea? »
LOL - yea, thanks heaps m. bublè !
Dan minggu lalu sejarah mengulang dirinya (euh, ini idiom impor maksa bgt) ... gue selesai lunch dan berjalan gagah hendak balik ke kantor. ada seorang pemusik jalanan, bapa2 bule 50 taonan dg sebuah clarinet. Dia sedang memainkan satu tune yg gue kenal dari album kontemporer yg gue punya. Dan gue tengah murah hati ─ jarang gue cemplungin recehan ke kotak pengamen ─ pun krn gue suka tune yg ia mainkan.
Gue tau apa yg akan gue tanyakan, « hiya, err what's this one you're playing called. I've got it at home. »
pemusik + "err, it's a French song."
gue ngga nyangka, «err ... you're sure? i thought it's Italian. Well, at least what I have it at home is. It's kinda like an Italian music called il mare, played on a piano. Really cool », gue tambahkan untuk menutupi malu.
pemusik + "i'm not sure what you mean, but it's originally a French song called La Mer."
Boh ... ma non lo so, io!
la mer = il mare, i say tomaeto you say tomAhto.
musik adaptasi lintas negara dan budaya ngebingungin org awam macem gue euy.
Dua malem lalu, gue nonton film kelima (dan yg terakhir, pff ... ! akhirnya) italian film festival ini. Bellissimo - lumayan bagus dan ngga mengecewakan. Dan pada akhirnya menuntun gue ke kesimpulan bahwa film italia pun ngga kalah mutu dg film perancis yg umumnya berkarakterisasi kompleks (pro dan antagonis) - karakter mereka ngga item&putih bak Hollywood. Saking kompleks-nya bahkan classmates gue pada, "whoaah ... what a relationship", "the guy is a jerk".
Plot-nya « La Vita Che Vorrei » bergaris besar cukup simpel : seorang aktris baru kebetulan dapet a good break to have a step in the industry, dicasting untuk sebuah film bersutradara dan bernaskah bagus, singkat kata filmnya diramalkan akan melejitkan namanya. Sebelomnya aktris ini - 30 taonan - cuma ambil peran kecil di film2 tak bergaung.
Dan dia terlibat secara emosi dg aktor utamanya - hey, what's happened to the expression "never mix business with pleasure" - anyhow dia mix juga itu business dan pleasure di dalam dan luar set. Dan aktor tsb seorang * stronzo ( *stronzo = arsehole, bastard ) yg entah krisis identitas, krisis hidup dia rada sukses tapi bukan aktor top bgt tapi moodnya bisa berbalik 180 derajat dlm sekejap.
Maka jadilah hubungan pelik, tarik menarik, dibumbui satu dua wanita muda yg diperdayanya (si aktor) dan pria paruh baya yg mengejarnya (si aktris) dan kecemburuan antara kesuksesan mereka satu sama lain. Mereka jadi - putus - jadi - putus - jadi - entah brp kali, selalu dipicu oleh mood si aktor. Tapi layaknya Italian (what's with Italians and their charisma, eh) dg gampang dia bisa ambil hati untuk make up and start all over again.
Let me tell ya : it's fun being Italian eh ...