filette et taxi

Publié le par macchi


...

Beberapa minggu terakhir, kota Opera&Harbour ini ribut dengan aksi kekerasan yang dianggap "tidak biasa". Tidak biasa di sini digunakan secara longgar sebab bagi mereka yang akrab dengan tindak kejahatan à la penjahat jakarta yang keji tak terkira (bukan perkara yang patut ditertawakan, tapi LOL sardonik hela napas panjang) kejahatan di sini bah ... secara statistik-matematik mungkin persentasinya bisa diabaikan, atau tidak signifikan dalam skala makro standar RI.

Bulan lalu, Senin pagi hari sekitar pukul enam pagi. Semua tampak normal. Tidak ada tanda-tanda buruk. Seorang supir taksi ditemukan tewas. Teraniaya hingga tak bernyawa. Beberapa benda miliknya juga hilang. Sedangkan taksinya dibuang di jalan sepi di sebuah suburb tak kalah sepinya.

Tak sampai 48 jam kemudian, di-headline-kan di media pelakunya telah terbekuk. Dua orang remaja. Gadis remaja. Keduanya sepupu. Empat belas tahun, usia mereka. Masih sangat belia? You betcha.

Publik tidak biasa mengasosiasikan kekerasan -apalagi kejahatan ganas- dengan wanita. Apalagi wanita muda. Maka polemik, debat pun beredar. Kolom opini sibuk menghujat orangtua, sekolah, mayor, dan pemerintah yang dianggap tak becus. Mayor kota ini mengelak  « the first thing that came to my mind was: Where are their parents? » Sedangkan orang tua, paman, bibi dan sanak si remaja berkomentar ke media yang mengerubungi mereka saat arraignment di pengadilan, We wouldn't think they could do this sort of thing. They're nice kids you know. Sedangkan janda si cabbie malang meraung-raung minta keadilan.

Gobsmacked adalah kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan publik. Tak habis pikir, bagaimana dua orang gadis remaja dapat menghajar seorang pria dewasa hingga tewas tak bernyawa hanya untuk merampok mobile phone dan sedikit uang. Dilaporkan senjata yang digunakan adalah baseball bat. Tertangkapnya mereka juga sebenarnya tak sengaja, si kedua gadis dihentikan -secara random- oleh "ticket inspector" di sebuah stasiun. Kalau saja mereka punya tiket di tangan saat inspeksi ini, maka si inspector pun tak akan mengecek dan mendapatkan ada arrest warrant buat si berandal ini.

Beberapa kali, saya pun melihat prihatin dengan tipe remaja raskal seperti ini. Usia masih muda tapi keluyuran melulu. Di kereta, hari itu sudah malam, dua remaja (Asia) cewe usia 13-an masih saja sibuk berjalan mondar-mandir dengan temannya [kalau cowo sih sudah biasa, tapi kalau gadis muda, rasanya janggal melihat keagresifan, keberingasan, yang ekstrim seperti ini] sambil bergosip tentang cowo dan rivalitas antar gang. Lalu ada cowo remaja seusia mereka yang menggangu mereka. Ia mengambil tas mereka lalu kabur; mungkin hanya untuk mencari perhatian saja. Kedua cewe ini pun sibuk mengejar, dari gerbong ke gerbong, sambil berteriak, Hey you little shit come here, I'm gonna kill ya, ya prick, whacha you doin, gimme back my bag you piec-ah-shet. Aksen jalanan mereka tak bisa lebih ketara lagi!


Berbeda dengan di Jkt, di mana lebih sering penumpang yang menjadi korban. Di sini, kebalikannya.

Seminggu dua minggu berselang, lagi-lagi ada beberapa cabbies yang dihajar dan dirampok. Dan serikat supir taksi dan mereka yang bergerak di industri ini minta ke council kota untuk memperbaiki kondisi kerja dan meng-tackle masalah keselamatan dan kesejahteraan mereka. Ini merupakan pernyataan ulang mereka sejak lama.

Dan akhirnya keluar legislasi di kota ini, city council akan menyediakan layanan security di setiap taxi rank di city centre, petugas keamanan akan berjaga terutama malam hari sambil mengatur antrian taxi saat peak hour (menjelang weekend, mencari taksi sulit). Ah the convenience of urban living!

Ini akan diujicobakan di pusat kota Sydney dulu, jika berhasil akan diekspansikan ke suburbs dan jika dianggap sukses mungkin akan diadopsi di states lain dengan problem serupa.

Saya pikir, lama kelamaan publik ostralis pun terlalu santai di zona kenyamanan, mereka terlalu lunak, lembek, lemah mental dalam gembung civilitas mereka. Sedikit masalah, taxpayers' dollars langsung dikucurkan. Solusi lain, saya pikir, yang lebih ekonomis dan praktikal, cabbies bisa saja membawa capsicum spray atau stun gun (dengan lisensi) untuk keadaan emergency.

Atau mungkin saya saja yang telah ter-desentisasi, dengan background hidup di dunia ketiga yang penuh kezaliman dan kejahatan di jalan. Mayat mengambang, mayat termutilasi, mayat ditinggalkan membusuk di mobil di hutan, rampok, todong, tilep, maling, jambret, copet, pencoleng spion, perampasan taksi, rampok bersenjata api, senjata tajam, pemerkosaan di tepi rel, di semak-semak, penganiayaan pembantu, penipuan via SMS, hipnosis, semua santapan quotidian (aduh, Pos Kota banget sih). Sedangkan di sini, kejahatan misterius, pembunuhan, paling satu dua kasus per minggu, sisanya didominasi kecelakaan lalu lintas, pengemudi mabuk atau rampok mesin ATM (dengan utility vehicle atau van). Kejahatan lokal di sini tak ada artinya dibanding dengan Jakarta (mungkin cuma Bogotà yang bisa mengalahkan Jkt?).

Mungkin kalau kita harus membayangkan tayangan macam Buser, Sergap, seperti di RI, dugaan saya kalau diudarakan di sini, program tersebut akan dilabeli rating « R+18 » atau minimal « M » karena terlalu grafik!

Si? No?

...

 

 

Publicité

Publié dans australissimo

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :