La mia oribile morta
Mari bergabung bersama kampanye melibas Microsoft dan hegemoninya.
Lagipula lucu bgt, salah satu alasannya:
Excellent
Bah ...
Gue ngga ngerti sama sekali. Anggapan umum dunia thdp negara ini biasanya melibatkan 4S's : sun, sand, surf dan sex (^^ LOL). Gue hendak bilang 3 S's yg pertama itu cuma mirage belaka euy. Siapa bilang idup di sini nyantai ─ boh ... kalo elo penggemar setia majalah surfing (kdg gue flick through sajah liat gambar2 aer *lol) seringkali ada komentar2 veteran surfing champs bilang «oooh, i grew up and spent most of my life on the beach mate, it's the best stress-free life you can ever wish for, whoaaah!» *whoaaaah cuma untuk efek tambahan sajah.
Definitely spoke for himself, the dude!
Gedoudahheah! Kenyataannya jauh dari imajinasi liar elo dan gue. Gue tinggal di suburb, dua jam hidup singkat gue terbuang di atas rel kereta per hari. Kerja gue total 37.5hrs/wk ─ emang sih mungkin masih mending dibanding temen gue di Jkt yg seringkali mesti lembur tanpa bayaran (talking about unquestionable loyalty!) walopun mereka dapet bonus tunjangan (hari raya dsb) ─ weekend 48 jam terlalu singkat bagi gue.
Dan kemaren sore lebih dari dua jam untuk tiba di rumah. Awalnya cuma dapet peringatan akan ada badai angin (windstorm) yg mengepung kota ini. Tapi di tengah kota biasa2 aja kecuali udara super lembab dan anget 35Celsius dan awan kelabu menggantung rendah. Ngga ada sana sekali pertanda ketidakberuntungan di horizon mengancam.
Kereta gue udah setengah perjalanan mendadak ada announcement bilang ada kerusakan oleh petir hingga sinyal perkeretaapian ngga berfungsi. Gue dan ratusan penumpang lainnya dibuang di stasiun kecil dan mesti ganti kereta, yg kemudian cuma diam stasionary sajah. Pengemudi kereta mencoba melempar lelucon2 kecil via intercom-nya, bagi gue ngga lucu sama sekali mengingat rambut gue hendak memutih krn frustasi menunggu sinyal sial yg ngga kunjung tiba. Penumpang lainnya sibuk rogoh2 tas, semuanya ampir serempak bicara di mobile, banyak appointment yg musti dibatalkan atao terutanda. Dan akhirnya kami perlahan bergerak. Sangat. Perlahan.
Setelah itu masih harus ganti line berarti ganti kereta. Tiba di rumah, gue udah terlalu penat. Masih mesti bikin dinner pula. Boh ...
Allora, vorrei cercare la mia propio dolce vita. Kdg gue pikir ─ dan tengah gue rencanakan dg matang ─ gue hendak kabur dari rat race ini, dari big smoke jenuh ini, dan pindah ke desa kecil di Mediteranean sana. Idealnya ... tapi gue tau gue lahir dan besar diantara kepulan karbonmonoksida mematikan dan akan selalu end up di kota besar lagi ujung2nya.
Ini:

Atao ini:

...