festa spagnola

Publié le par macchiato


Hola ... gue hendak mengaku.

Orang2 berubah  -  begitu pula gue, kdg terseret arus perubahan.

Minggu lalu gue sewa DVD spanyol. Judul aslinya «El otro lado de la cama» - the other side of the bed  - sebuah komedi seks musikal semi-slapstik ttg sekelompok pemuda/i berusia akhir 20an di Madrid yg bertukar2 pasangan. Lima menit pertama, sang aktris utama bukan saja semi naked tapi juga menyibak frontal genitalia dg kasualnya. Awal yang menjanjikan. Tipikal film Eropa *lol. Dan gue menilai film itu lumayan sbg penghibur diri, film ringan yg ngga perlu brain melainkan dick. Satu hal menarik lainnya, aksen Madrid, -th -th -th, lucu bgt di kuping gue. Mereka semua ngga bisa bilang « c, z, s, dan entah huruf apa lainnya » jadi valencia = valenthia, lucia = luthia, zaragoza = tharagotha - dan th nya lebih di-pronounced daripada th inggris. he he, lucu euy Spaniards ini. Belom lagi setiap lima detik, mereka bilang: mi amor ... por favor.

Bisa dibilang gue jarang liat film spanyol. Baru akhir2 ini sajah. Dan ngga pernah di bioskop, dg sabar gue tunggu DVD-nya muncul di videoshop di suburb gue. Itu pun biasanya yg mainstream, yg sering dipublikasikan. Almavaro contohnya. Dua dvd terakhir euh ... apa yah, «The Sin of Padre Amore» dan « ... » lupa euy judulnya, pokoknya yg berkisah skandal priest yg me-molest anak altar. Padre Amaro juga berskandal, ttg priest muda di Meksiko awalnya di-seduce oleh gadis desa tapi ia men-seduce balik, menghamilinya, dan membayar pengguguran janinnya. Whoaah... tampaknya saya gemar hal2 berbau skandal.

Awalnya gue ngga menggemari kebudayaan hispanik. Hu hu, gue mendapati diri di antrian counter Rex (regional airline milik Qantas - udah bangkrut skrg). Dan gue ketinggalan pesawat. Holy shiitee! Itu semua krn ulah dua orang hispanik di depan gue yg hogging customer service person yg seharusnya ngelayanin gue dlm tempo 5 menit  -─saat itu cuma hendak berweekend ke kota kecil di NSW dan tanpa check-in luggage   -  beres dan gue masih bisa menarik napas lega saat masuk ke airgate.

Si dua pria hispanik itu entah debatin apaan, yg pasti rumit dan ribet, sambil tunjuk2 tiket mereka dg nada suara meninggi ke ibu2 customer service person. Gue ngga tau mrk asal mana, aksen hispanik mrk udah cukup bikin gue tuding2 «hey this is no Bogotà, sort your prob before hand you twat !»

Dan film2 hollywood juga sering menggambarkan keberandalan hispanik amrik yg menyusup di gang2 gelap bertransaksi bubuk putih (ellô law&order, thanks heaps!). Singkat kata bagi gue kultur ini ngga menarik,  kultur ngga berkultur.

Hingga taon lalu.

Gue ke SYD spanish quarter festival. Festival yg kecil. Masih muda, baru 2 taon. Saat itulah gue liat spanish culture dlm skala besar. Takjub. Dlm ati, shite wha'avyabinmesin'   [err, entah knp, gue sering menyerapah dlm ati! hehe].

Dan kultur spanyol original, bagi gue, yg paling menarik. Varian amrik selatan mungkin rada2 biasa2 aja kali yah.



Minggu sore lalu gue meluncur ke pusat kota bertujuan utama: liat keramean, beli paella, sangria dan liat flamenco Diana Reyes.

Paella dan Chorizo
Pertama kali gue jajal paella, tidak buruk tidak juga terlalu spesial. Dasarnya paella bak risotto berwarna kuning (dg saffron¿) diolah dg seafood (prawns, clams, octopus). Harganya tidak murah tapi setara dg harga seafood segar di sini yg mahal. Ada pula kios2 menjual chorizo tapi ini bisa gue temukan dg mudah di deli jadi ngga tertarik untuk buang lima bucks untuk secupil chorizo berbalut breadroll.

Churros
Gue ngga tau apa ini, tapi antriannya panjang (liat foto), dan dijual per setengah lusin. Aneh. Gue liat org2 yg tengah makan churros, boh ... mengapakah bentuknya bak fries, lebih gemuk, panjang, tapi digoreng persis fries. Apa spesialnya¿

Spanish Pop
Ada satu band yg mainin hit-nya J. Lo - bah, baru pertama kali gue denger lagu Lopez in spanish. Dan setiap Spaniard di jalan tsb langsung berdendang, menggaet pinggang lawan jenis yg berada di dekatnya, berjoget dg riang. lol. Must be in their Latin blood!

Flamenco
Castañet, olé ! Whoaaaah, flamenco itu seni yg menyihir. Gue baca di travel mag, flamenco adalah gabungan tiga bentuk seni Spanyol : spanish guitar, andalusian musik (dg vokal), dan tarian flamenco itu sendiri. Ketiganya mesti berkolaborasi dg pas. Buat gue, si org awam, teknik permainan gitar spanish memukau, contoh: satu gitaris mengiringi si penyanyi tapi dentingannya di telinga gue expressively complicated. Dan si penyanyi: whoaah, itu dia tarik pita vokal bak lolongan serigala, bak seorang warrior yg baru baru pulang dari medan perang dan menemukan desanya lenyap. Pun ada unsur afrika utara dan timur tengahnya, entah bener atao ngga, tapi mungkin satu millenium lalu difusi kultur di kedua belah selat Gibraltar mengaburkan batas2 seni menyanyi eropa selatan dan afrika utara¿  Flamenco-nya sendiri ngga kalah bagus. Gue ngga bisa mendeskripsikannya.
Diana Reyes sendiri seorang instruktur flamenco paling terkemuka di kota ini, workshops-nya selalu rame. Dan beberapa bulan sekali kdg gue liat iklan pertunjukannya, tiket berkisar 35 - 50 bucks.

Andalusia daerah mistik yg mesti dikunjungi sekali waktu. Olé ... ! 



Publicité

Publié dans affogato

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :