Où sont les toilettes?
Di Italia, ia disebut gabinetto [1. kabin kecil] atau [2. kabinet, iya kabinet pemerintahan, emang politikus banyak yang kotor jadi tepatlah pekerjaan mereka dianggap kakus - LOL].
Di Perancis, ia dianggap benda plural feminin, hehe ... entah mengapa, toilet harus disebut les toilettes, harus selalu jamak, bukan une toilette (padahal banyak juga toilet yang satuan kan). Dan frase turistik yang perlu dicamkan di benak jikalau mengunjungi negeri baguette adalah, Où sont les toilettes, s'il vous plaît ? [hey, worked for me, will work for you too!] dengan penekanan di 's'il vous plait' dengan nada mengiba - percayalah, sangat berguna saat kepepet!
Dan di kedua negeri dongeng di atas (IT & FR) il water atau WC adalah nama universal yang cukup dimengerti.
Dan tentu saja tak boleh terlewatkan (grazie mille a te a Casene):
»»» le bidet (FR, ENG and the rest of the world I suppose)
»»» il bidè (IT)
Instrumen invensi suku Gaul yang berfungsi utama untuk errh ... mencuci bagian tubuh vital dan paling pribadi. Hi hi hi, bidet bukanlah benda yang umum di RI. Pun di negara -negara Anglo - bisa dibilang hampir musnah, di tanah amerigo yang pernah saya kunjungi, dan tanah ostralis ini, belum pernah menemukan satu bidet pun di perumahannya.
Menurut Wikipedia, bidet diargumentasikan lebih populer di negeri eropa dan amerika selatan plus Nippon. Suatu petang, prof Italiano saya berujar, Oooh bidet's still quite popular in Italy. It's actually quite handy you know! Dan salah seorang classmates tidak tahu menahu, tidak pernah melihat sebuah bidet sepanjang hidupnya, bertanyalah ia dengan polosnya, che serve questa roba? LOL. Dan professore kamipun menjabarkan kira-kira apa yang baru saja saya kemukakan di atas.
Sumpah, saya telah masuk beberapa rumah dan apartemen di Francia, Germania, Belanda, dan bidet tidak eksis di pemukiman modern. Di negeri wasabi, justru bisa disebut sangat umum. Di semua hotel jangan dipikir dua kali, ini harus ada. Di ryokan, losmen tradisional, cukup populer. Dan, seperti halnya bangsa Nippon yang menyempurnakan ide mobil besar menjadi mobil kecil, mereka pun meng-elektronikan bidet tradisional. Di salah satu episode the Simpsons, Homer bermain-main dengan bidet dilengkapi dengan videocam di penginapan mereka di Tokyo. Pun begitu dengan saya, hehe... selagi sibuk dengan urusan bowel movement begitu banyak tombol memukau yang bisa dijajal, ditekan satu persatu, semuanya mengatur aliran jetstream si bidet elektronik.
Sungguh saya bukan bermaksud memproduksi sebuah posting yang kasar dan vulgar dengan mengangkat tema perkakusan, apalagi ini awal tahun, masih harus ber-mood allegria, bukan saatnya merundingkan topik akan tempat pembuangan ampas metabolisme. Ahh, tunggu dan bersabarlah.
| 1. Beberapa tahun silam seorang teman baik (wanita, yang inisial-nya ngga bisa disebutkan sama sekali *lol) serta merta mengirimkan email. Dengan pertanyaan yang err ... tidak biasa. Singkatnya, aneh dan mengejutkan. Tanyanya, euh .. di sana kan toiletnya pake tissue yah, lalu bersiin diri gimana dong. Emang bisa bersih apa? Errr... Mmmmh... Boh ... Gimana pula cara jawab diplomatis tanpa harus mendetilkan hal-hal yang tidak pantas dituliskan. Pikir punya pikir, saya membalas dengan jawaban yang dicerdas-cerdaskan sajalah supaya tidak menelurkan aib buat kedua belah pihak, eh iyah dengan tissue, maka itu pastikan jangan sampe keabisan itu tissue. Gunakan sebanyak/ seperlunya sampe sebersih mungkin. Lalu saat mandi di pagi hari kan ketemu air lagi dan bisa bersiin tubuh lebih total. Oaah.. Oddio! Mon dieu! |
Toilet mungkin bisa dibelah menjadi dua jenis walaupun bisa kombinasikan: toilet yang hanya ber-jamban; toilet yang hanya kamar mandi dengan wastafel etc; dan toilet gabungan keduanya. Ah jangan lupakan «toilet gentlemen», nama bekennya, di tempat umum yang berisi john (toilet urinal satuan) atau tipe trough (toilet urinal komunal yang memanjang, bak tempat makan ayam di peternakan).
Dan jangan lupakan model normal di rumah-rumah di RI (termasuk rumah keluarga saya). Atau varian-nya, euh ... yang berbaris tanpa tedeng aling-aling bak tentara Korea Utara, di sepanjang bantaran sungai (terutama di Jakarta Raya). Aduh, apa itu nama populernya yang sering digunakan di Pos Kota, kakus helikopter (?) atau apa.
Saya penggemar camping dan telah beberapa kali diajak oleh teman. Toilet tentu saja komponen signifikan dari kegiatan ini. Kekuatiran pertama yang muncul adalah, apakah akan ada toilet in situ? Dan untungnya, sebagian besar camping sites di sini berfasilitas yang bisa dibanggakan - bahkan hingga ke pedalaman hutan (sub)tropikal pun kadang bisa ditemui toilet milik park rangers yang biasanya sangat berorientasi ke proses daur ulang alamiah, jambannya porselin atau terbuat dari kayu namum penampung di bawahnya adalah tanah bunker yang digali dalam hingga bebauan sangat minimal. Mana flush-nya ? errr ... ini bukan Hilton, bung!
Dan mungkin sumbangsih suku australis kepada dunia: the dunny (fam. toilet, slang australia, euh hati-hati gunakan kata ini karena kemungkinan penduduk Amerika Utara tidak mengerti). Dan housemates gue kadang bercerita, di sini di tahun 60-an masih populer toilet outdoor di mana si penghuni rumah harus tergopoh-gopoh membawa senter di tengah malam buta. Ada dunny tentu ada the outback dunny, untuk ilustrasi silakan cari film Crocodile Dundees. Intinya, di Outback, atau di gurun sepanjang dan lebar ratusan kilometer, tanpa manusia satu pun, hanya ada pasir dan tanah berwarna auburn, kadang bisa dijumpai sebuah toilet sangat sederhana terbuat dari seng, tripleks atau fibreglass. Lihat foto di samping.
| 2. Hari Minggu lalu, seharian ber-piknik dan membunuh waktu demi menunggu kembang api di Sydney Harbour, pantai kecil Bradleys Head semakin sore semakin ruah dengan pengunjung. Ada manusia, ada hajat yang mesti dibuang. Dan untungnya ada toilet publik yang bersih dan tidak bau. Menjelang malam, beberapa kali saya harus mondar-mandir ke toilet untuk pipis saja. Yang terakhir, selepas jam 21.00, toilet dan area sekitarnya penuh dengan lautan manusia yang berjejer. Perlu diketahui, toilet pria dan wanita berdampingan dengan entri masuk berpolar 180º. Lucunya, barisan hanya terjadi di toilet wanita. Selalu. Tidak pernah tidak. Selalu ramai. Bak pasar malam. LOL Dan saat itu saya berpapasan dengan seorang bapa ostralis setengah baya. Comme de rigueur, ia sedikit mabuk - ya, malam tahun baru tentu hal yang normal. Sambil berjalan ia melirik ke antrian toilet di sebelah yang semakin memanjang di mana wanita tua, muda, besar dan kecil semakin gelisah, jelas sekali terpancar dari raut wajah mereka, lalu si bapa ini berujar ke dirinya sendiri, thank God I'm a boy! Hate to be one of em' ... Tiba di toilet pria, dengan tiga urinal berdiri maka turn over kami pun sangat gegas, tidak sampai 30 detik kelegaan bisa didapatkan, aaah...! Ada satu bilik ber-jamban dan ini pun ramai digunakan. Namun lucunya, sambil pipis, tepat di belakang kami (bisa dibilang di foyer toilet tsb) ada antrian singkat dua gadis muda yang ditemani boyfriend atau teman pria. Rupanya mereka hendak menggunakan cubicle toilet kami. LOL. Satu dua komentar meluncur, Hey yer the smart one arencha? Jawab si gadis dengan tersipu sambil melirik ke arah berlawanan, yeah we couldn't wait that long. Pelajaran Moral: when a girl gotta bust a girl gotta bust ! LOL
|
Jangan pernah remehkan fungsi dan kepentingan toilet! Suatu ketika, saat saya masih tinggal di Queensland, sebagai student kere yang harus berbagi rumah (sharehouse) dengan lima students lainnya, timbul prahara besar bersumber akan penggunaan fasilitas toilet rumah kecil kami.
Empat dari lima housemates adalah suku Germania. Florian, seorang Jerman Nordic, kebiasaannya pagi hari ia tanpa ragu " mengambil waktu " (take his time) di toilet, err ... layak juga disebut "yer hoggin the toilet, dude!". Kadang bisa hingga 30-40 menit, padahal pagi hari adalah jam sibuk, peak hour yang menuntut toleransi tinggi saat kebelet. Dan pagi itu, Stefi, gadis Bavaria bernyali baja, masuk kamar mandi, hendak shower, karena ada kelas pagi. Ia keluar dari kamar mandi sejenak- mungkin ketinggalan handuk atau sikat gigi atau apalah, dan saat kamar mandi kosong Florian menyelonong, mengambil kesempatan emas dan mengunci dirinya. Stefi mengetuk pintu, Florian I was using the bathroom, I got a class, can you please hurry up. Florian jawab, ah ja ja. Tiga puluh menit lebih berlalu dan Florian belum selesai juga. Malah ia sempat-sempatnya bercukur pula. Akhirnya Stefi pun murka, ia pergi ke kelas tanpa mandi. Malam harinya, mereka bertemu muka dan pertikaian hebat mengudara. Sumpah, baru sekali itu saya menyaksikan adu verbal antara orang-orang Germania, di tengah hiruk pikuk "och ich ein drei stein stein tu auchlandigunghoffsisch ... scheissepfeifferundersbundenstein" ! Boh .. Allez, les Vandales!
Keesokan harinya, Florian mengadu "you know what, these Southerners they're hopeless, and she called me a f... arsehole pig" ahahaa LOL.
Serves ya right, buddy!
Toilet terbagus yang pernah saya kunjungi -beberapa kali bahkan- berlokasi tidak terlalu jauh dari tempat bekerja, cuma dua menit berjalan, di the Arthouse Hotel (yang sebenarnya adalah sebuah boutique bar, bukan hotel). Yang unik, toiletnya terpisah dari ruangan barnya itu sendiri. Dengan kata lain, toiletnya memiliki akses eksternal, he he mudah disusupi oleh non-patrons. Dan beberapa kali saya numpang masuk, dengan mengendap-ngendap tentu saja! Boys toilet-nya menyenangkan dan menenangkan sekali. Saat masuk yang menyergap adalah wangi harum, kaga boong, yang biasanya paling banter bau kamper atau penyegar udara supermarket, tapi the Arthouse menggunakan entah spray apa tapi aromanya bak Bvlgari Homme. Ini bukan bualan! Lalu interiornya sangat kontemporer berdominasi warna coklat dan hitam pastel, semuanya low lights. Apalagi cubicle-nya, hanya ada ada dua lampu sorot kecil yang ditanam di lantai dan mengalun musik klasik (kadang musik jazz instrumen modern) selebihnya ia ber-aura bak ruang meditasi, bisa jatuh tertidur pulas di sini. Lalu basin wastafelnya ber-sensor tangan yang sekaligus mengaktifkan lampu pendar biru tepat di atas tangan kita. Pengalaman yang sangat meditatif, saudara-saudari!
Tidak selamanya toilet mesti diidentikkan dengan hal-hal kotor dan berbau. Ada yang suka «air toilet» kah? Saya, tanpa ragu akan jawab, iyah atuh boleh mau. Eeau de Toilette, jarangkan yang tidak suka. Yang membetekan, kebanyakan sales assistant di sini sering tidak mengerti sama sekali. Saat tengah lihat-lihat dan mencari spray di parfumerie department store di sini, sering ada asisten penjualan yang akan menghampiri dan menawarkan, Ooh we have a new EDT from ... blah. Tapi lucunya, kadang mereka bilangnya "o de toilet" dengan sistem pengucapan Anglo. Hi hi hi, dan saat saya merespons dengan pengucapan yang benar "o de twalet" mereka meringis. Hey, aint my fault yer so dumb!