meetup.com

Publié le par macchiato


«Euh ... what have I got myself into? Should I shouldn't I; God, I'm an idiot!; Why am I doin this again.» Panik menyergap dan gue pun meragukan keputusan yang telah gue buat. Baru saja gue mengambil tempat di meja bertaplak linen ini. Meja linen putih berkonfigurasi tempat duduk intim. Di meja samping ada beberapa pasang dimabuk cinta sedang asik memilah buku menu. Sedangkan " teman meja " gue semuanya berwajah asing, orang-orang yang belum gue kenal sebelumnya. Bah, gue terperangkap untuk setidaknya satu jam ke depan dengan sejumlah total strangers yang mau ngga mau harus gue kenali. Mereka mulai ber-bonsoir, salut, comment ça va ... sambil menyodorkan tangan.

And I followed suit.

+++

Gue ngga berafiliasi sama sekali dengan situs meetup.dot.com tapi mendadak terbersit zaman kini beda jauh dengan yang lalu - teknologi online bak jamahan tak terlihat tangan Zeus.

Sepuluh tahun lalu, internet masih barang langka. Pembelajaran bahasa asing, walaupun ngga jelek-jelek banget, terbatas kepada pendidikan formal sekolah, informal les, dan film asing (alias studio hollywood) yang bumper-to-bumper dengan sinetron bodoh Punjabi. Coba liat sekarang, situs-situs edukasi multimedia bah ... tak terhitung; baca berita dalam bahasa apapun tinggal ke GoggleNews; hendak download materi TOEFL gratis tinggal modal dengkul doang - gue sendiri sering cetak lemonde.fr buat nambah vokabulari di otak (walaupun susahnya euy! LOL, otak gue udah penuh, setiap satu kata masuk satu lainnya terdesak ke luar).

Dan meetup.com gue temukan tanpa sengaja, via link dari satu situs ke situs lainnya. Service yang ditawarkan cukup tidak biasa. Ia klub virtual yang mempertemukan dan mengorganisasi penggemar suatu aktivitas. Untuk meet up!

Gue bergabung -awalnya karena rasa penasaran yang bisa membunuh kucing itu- dengan « french meetup in Sydney ». Awalnya apatis, apa aja sih kegiatan klub ini; organisateur-nya bisa diandalkan kah, menarikkah kegiatan mereka dan segudang pertanyaan lainnya.

Berkilah bahwa French gue walaupun makin lumayan tapi masih jauh dari yang gue targetkan - kalo bisa sih sesegera mungkin, French gue bisa setara dengan bahasa kedua gue yang akhirnya bisa memungkinkan gue mengerti semua medium komunikasi oral visual dan interaksi - gue lumayan rajin ikut klub-klub percakapan untuk mensuplementasi kelas French dan outing ke bioskop berburu film Gallic.

Bulan Oktober kesempatan ikut rendez-vous french meetup SYD. Mereka ternyata bertatap muka lumayan reguler di kafe atau resto. Kali ini venue-nya di sebuah bistro belgia di uptown yang elit. Gue ke sana, tiba sebelum jam 19.00, tempat tersebut lumayan sesak dan gue gagal menemukan grup tersebut - euh, ngga mungkin kan gue nanya satu persatu setiap diner di tempat tersebut " errr ... ini grup blahblah kah?". Kaga aci, kata orang Betawi.

Dan setali tiga uang bulan-bulan berikutnya.

Hingga minggu lalu, mid-januari, karena gue tengah tidak terlalu sibuk (Jan, bulan rekuperasi setelah libur natal taon baru berkepanjangan) gue paksain diri untuk ikut pertemuannya. RDV di resto aussshtralian modern, Denise Winters, bisa BYO (bring your own) beberapa anggotanya membawa botol alkohol.

Gue ngga pernah merasa dan mengklaim gue seorang individu sosialis dan sayangnya kemampuan sosialisasi gue pun suckish berat dan sekarang-sekarang ini gue semakin males untuk bertemu dengan " orang baru " kalo kondisinya ngga jelas. Singkatnya, kalo orang-orang "baru ini" ternyata membosankan (atau vice versa, gue ngebosenin bagi mereka) sia-sia gue menginvestasi waktu duduk semeja dengan mereka. Voilà !

Dan emang terasa aneh sih, mayoritas pesertanya kali ini -seperti gue- first timers. Wakim, si organiser, juga rada pendiam. Karena ini informal, maka kami ber-tutoiement, dan karena itu resto proper, kami bersebelas tidak bisa meninggikan suara untuk berbincang dengan mereka di ujung lain meja tersebut. Jadilah gue mengetahui latar belakang Gillian, seorang wanita ostral yang ikut suaminya kontrak kerja di Paris dan tinggal di sana dua tahun circa 2003. Jadilah gue tau Alex, seorang bapa-bapa super ramah beretnis Lebanon (dia sendiri yang bilang, je suis libanais) dan Sam, asal Brisbane akunya, yang keluarganya melarikan diri dari Kamboja semasa perang Khmer dan ia sempat tumbuh dan bersekolah di région parisienne (maka itu aksennya bagus banget, padahal bukan French loh!) sebelum mereka pindah permanen ke tanah australis.

Hikmah yang bisa dipetik, gue seneng ati aja bisa ketemu karakter baru tanpa ciut nyali, lalu mendengarkan kisah hidup orang lain yang memukau juga membuat gue takjub (di benak gue, keluarga pengungsi perang Indochina bak khayalan suram yang hanya bisa dilihat di film-film, mendengar kisah langsung dari horse's mouth bikin gue ngga percaya. Ortu gue, di epoque yang sama 70-an, cuma bermigrasi ke Jakarta untuk mencari kerja dan penghidupan yang lebih baik). Maka itu gue ngga bisa bilang mereka dan gue sepaham dan sepemikiran atau gue akan ikut pertemuan klub tersebut tiap bulan! Ngga. Tapi setidaknya gue nambah pengalaman telah beraniin diri gate-crashing total strangers, tanpa garansi everything will be alright seperti di lagu-lagu cengeng.

Dan ternyata, melalui penyelusuran lebih lanjut, klub bahasa (dan hobby lainnya!) itu sangat menyebar. Mengintip fasilitas "past events" gue menemukan di kota ini, klub Spanishnya rame dan beranggotakan lebih dari selusin di setiap pertemuan mereka. Ada juga klub Italia, germania dll. Sementara di belahan bumi lain, eg. Paris dan Roma, ada klub English expats. Entah klub Indonesia udah termaterialisasikah?

Siapa tau misal di Jakarta atau kota-kota lainnya ternyata juga ada banyak klub-klub seperti ini, faedahnya banyak banget.



Sedikit aib. Tahun lalu, sebelum menginjakkan kaki di tanah japon, gue telah denger, diberitahu, dan baca akan keberadaan klub Mickey. Kabar angin bahorok-nya bilang ini klub percakapan Inggris antara lokal dan expats di Tokyo.

Gue bukan native speaker, tapi menurut Lonely Planet, elo bisa masuk ke klub ini hanya dengan bermodalkan beberapa patah kata bahasa Inggris - sementara warga Tokyo harus bayar sejumlah Yen untuk akses masuk. Dan ada free coffee buat English speakers, lanjut Lonely Planet. Boh  ....  dengan mental cukup busuk gue pikir , hendak nyari kopi gratis ini ah. Lagipula kopi adalah barang de luxe yang sangat tidak murah buat kantong pas-pasan gue. Ada barang gratis dengan modal cuap-cuap dan gertak sambal sedikit dan kesempatan bertemu muka dengan para lokal Tokyoites lumayan kan daripada sendirian menyusuri kota neon ini - mengapa tidak? LOL

Dan alamat klub Mickey udah di tangan. Tapi gagal juga sih pada akhirnya. Sistem alamat Jepang lumayan rumit, dan mustahil bisa di-crack oleh gue tanpa modal pengetahuan bahasa mereka. Alhasil, gue batal menyusup klub Mickey dan masuk ke kafe apa saja yang gue temui untuk sebuah espresso di musim panas.

Dan mereka bilang, it's the thought that counts!


Publicité

Publié dans affogato

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :