festeggiare?

Publié le par macchiato

Lusa, 26 Januari, mungkin adalah hari nasional paling penting di negeri dingo ini.

Australia Day

  











Serentak, layaknya tujuh.belasan, quatorze.juillet, the.fourth.of.july, di penjuru (terutama) kota terbesarnya ada peringatan, perayaan, dan pesta umum dan privat. Yang privat maksudnya bbq di pekarangan belakang rumah-rumah penduduk, musik hingar bingar ocker oz [ACDC, INXS, Jimmy Barney dan pemusik lainnya yang ngga gue ketahui], dengan VB* di tangan (*victoria bitter, bir asal Melbourne) mengalir dengan deras –terik matahari menyengat- dan hingga akhirnya mereka plastered dengan gempita. 
   
Beberapa minggu menjelang puncak perayaan, councils kota dan suburbs sibuk mengucurkan dana dan mengampanyekan perayaan masing-masing. City of SYD, setiap tahun, menggelar the Sydney Summer Festival, padat acara mulai dari open air cinema gratis & bayar
[gue sendiri pengen jajal, tapi mesti nyari temen dulu lalu cari film yg asik .. bah rumit kan!], nanggep band dan pemusik di pusat kota, sekitar Harbour dan sepanjang pantai, konser di Music Halls dan Rumah Opera dengan artis lokal dan internasional, sponsor kompetisi marathon, triathlon, dan olah raga air eg. the surfboard challenge melewati Rumah Opera dan Kediaman Perdana Menteri! Tahun lalu gue sempat partisipasi pasif saja: piknik di stadium olimpik buat piknik dan malemnya liat sirkus asal Perancis. Gratos … LOL 
 
Puncak perayaan, tanggal 26 nanti, acara “resmi” pemerintah setiap tahunya, tanpa gagal, the PM address (pidato resmi), citizenship ceremony di alun-alun (town hall) untuk sedikit pidato oleh walikota lokal, blablablah, pemberian sertifikat warganegara kepada para citizens baru dan mungkin nibbles (makanan ringan) ostralis (bloah … bbq sosis, chips, pavlova).

Di area sekitar Opera House juga akan ada seremoni " pembersihan " yang bakal dihadiri pejabat-pejabat penting, ritual cleansing yang dikomando oleh sesepuh atau tetua tribe aboriginal lokal. Mulai dari tari-tari tradisional, penyalaan api, penyebaran abu ke tanah, semua tradisi aboriginal.

Pun pengumuman hasil seleksi komite Australian Of The Year, dengan berbagai
sub-kategorinya. Beberapa tahun lalu, Pat Rafter (ex-petenis, sekarang udah gantung raket) dan Ian Thorpe pernah terpilih.
 
Meminjam istilah fête de la musique, kota ini selain gelar panggung di pantai-pantai utama, band-band lokal ribut menggebuk drums, lomba talenta antar sekolah, tarian modern remaja-remaja lokal kelebihan hormon, dan sebagainya, nantinya akan dipusatkan di Stadium Olimpik untuk The Big Day Out. Pagelaran musik besar-besaran. Rock&roll-metal-and-everything-in-between galore. Green Day, Silver Chair, tahun-tahun sebelumnya pernah ditanggep. Mari kita urai komponen the Big Day Out per kronologi: elo seorang remaja (terutama highschooler) haus hiburan dan merencanakan hari binging, splurging, frolicking, sunbasking, dll semua hal hedonistik lainnya; kumpulkan semua teman-teman untuk beli tiket bareng (jumlah teman semakin besar semakin baik); beli tiket via online, telp atau ke ibu dibyo (?); pada H-1 sore harinya elo udah sibuk bersolek sebelum hitting the pub, clubbing, dan
eventually getting smashed saat elo balik rumah jam 2 am.  Jam 8 pagi, udah mesti bangun karena mesti tiba awal di stadium untuk antri masuk, bareng temen-temen dengan mata puffy dan bloodshots di tepian retina. Dan mulai dari jam 10 pagi hingga subuh keesokan harinya satu persatu band naik panggung, non-stop, tanpa interupsi, tanpa jeda. Alkohol disuplai oleh sponsor, bisa dibeli in situ. Dan setiap pria dan wanita bisa dipastikan akan getting hammered saat acara usai. Gue sendiri ngga tertarik ikut, pertama musiknya bukan genre gue; tiketnya ratusan bucks (mahal tak terkira walaupun value for money kalo band musik kegemaran elo tampil berturut-turut), gempet-gempetan sampe teler (sekian tahun lalu ada remaja cewe tewas kegencet, ia asma, panas terik luar biasa, tergempet ratusan orang, dan kehabisan napas hingga jatuh tak sadarkan diri. Panitia dipersalahkan karena ngga mengantisipasi bludakan revellers). Voilà  …… your full on alcohol-induced MASSIVE BIG day out. Anglosaxon banget ngga sih ^_^

Di balik semua kesemarakan, gempita, dan histeria agenda politik tersebut, ada kontroversi yang selalu mencuat. Buat banyak pihak, terutama organisasi yang berkecimpung dengan hal suku aborigin semua berkoar dengan berapi-api: teriak mereka, Australia Day tidak patut dirayakan karena esensi-nya adalah hari invasi bagi suku aborigin saat Kapten Cook menginjak bumi australis 1788. Yang pro ber-argumen Australia Day bukanlah merayakan hal yang menyedihkan dan disesalkan (pendaratan Capt. Cook) tapi ia merayakan semua hal yang membuat negeri ini “GREAT” dan hal-hal yang membuat “kami” menyadari mengapa negera ini berjuluk “the lucky country”. Oddio!

Origin “the lucky country” mungkin terkait dengan kemajuan pesat koloni-koloni di benua ini di abad ke-19 dan 20. Pertanian bias dibilang mencukupi, ngga ada yang kelaparan, ekonomi melaju pesat bersaing dengan US, UK, dan Eropa. Lalu fakta bahwa negeri muda belia ini baru sekali konfrontasi langsung (eg. Japon mengirim submarine mengebom kota Darwin dan Sydney) sedangkan keterlibatannya dengan perang dunia berbasis patriotisme membela King George dan Queen Elizabeth I. Plus bahwa kandungan bahan mentah dan minyak di sini cukup besar dan belum tereksploitasi. Belum lagi, gaya hidup « take it easy buddy » à la surfie yang seringkali menjadi impian dan irihati mereka yang tinggal di negeri landlocked, terlalu dingin lah, terlalu banyak hujan/ kabut/ smog/ atau mist lah, tidak berair, berair tapi tanpa ombak, atau tidak mampu untuk mengelola potensi laut dan pantai.

Kembali ke perkara Aborigines tidak menyetujui Australia Day:
 
Tunggu sebentar, mari kenali beberapa istilah untuk merujuk kepada orang asli, pribumi, suku aborigin yang pertama kali mendiami daratan ini: 
1. indigeneous australians – paling politically correct, digunakan di media. 
2. native australians 
3. aborigines 
4. aboriginal australians 
5. black australians – kadang housemates gue menggunakan istilah ini, pejoratif. 
6. abo – bermakna pejoratif, slang, kasar. 

Jujurnya, gue ngga bisa bilang gue tahu banyak akan issue-issue kompleks ini; gue rela baca berbuku-buku akan revolusi perancis dan kesadisan Parisians kala itu ; mengapa kota Nice dan pulau Corsica bisa pindah tangan dari Italia ke Perancis ; teori kematian/ assassinasi Napoleon, bahkan mengapa Malta hampir sedikit lagi menjadi teritori Perancis ; tapi perkara aboriginal gue mending bilang euh tau permukaannya doang.

Bisa dibilang, Aborigines dulunya korban namun sekarang bermain sebagai « korban » - terlena oleh turf card mereka. Gue simpati dengan eradikasi suku-suku di awal masa kolonialisasi, lalu kasus generasi hilang (bayi Aborigin diambil dari keluarganya dan diadopsi oleh pasangan anglo atau dipelihara oleh pemerintah). Belum lagi, statistically, hingga saat ini harapan hidup per kapita seorang aboriginal 20 tahun lebih rendah dari data nasional (82 – 20 = 62 tahun, harapan hidup pria aborigine) lalu masalah sosial mereka pun berlipat ganda.

Di kota country kecil di QLD dulu gue tinggal, laporan kejahatan memusat di taman kota, lalu di tv sore harinya disorot “the scary Park People” yang menggunakan suntikan sambil menenteng botol alcohol – not a pretty sight mind you! Konsekuensinya polisi lokal pun ngga berani menganggap sepele, sebab ini kasus “sensitif" maka penanganannya pun mesti hati-hati dan delikat. Boh … kalo park people tersebut berkulit putih, sudah dari kemarin dulu mereka diringkukkan di penjara, percaya ngga percaya mes amis!

Maka itu banyak sekali diskriminasi positif yang diberikan oleh pemerintah sini. Berlandaskan guilt pang, rasa bersalah selama lebih dari dua abad, maka ada komisi segala macam khusus aborigin, menteri urusan aborigin, tunjangan sosial khusus aborigin (ekstra di atas tunjangan sosial normal lainnya) plus lain-lainnya. Anak muda mereka banyak yang putus sekolah, atau tidak mampu bersaing di kelasnya, maka pemerintah pun bikin kurikulum yang didesain khusus untuk mereka. Di sekolah gue, seorang Aborigine ngga bayar fee sama sekali, bahkan di formulir ditawarkan apakah perlu support-support khusus.

Belum lagi problem sosial mereka. Suku aborigin dulu beratus-ratus tribes, sekarang mayoritas musnah, tinggal dikit yang bertahan (dan sukses) – introduksi diseases dari settlers dan binatang dari Eropa. Erosi dan degradasi kebudayaan mereka pun menggila, ratusan bahasa aborigin lenyap total sebelum sempat terdata atau dipreservasi sedangkan penutur asli memakin menyurut jumlahnya, introduksi booze yang menjadikan alkoholisme masalah besar hingga menciptakan lingkaran setan (booze bikin mereka ngga mau bekerja, tergantung dole money, dan seterusnya ke generasi berikut).

Di Canberra, ada yang disebut The Tent Embassy - tenda besar di depan rumah parlemen. Ini adalah bentuk protes yang mengklaim bahwa pemerintahan kulit putih tidak legit.
Plus mereka menuntut pernyataan MAAF resmi atas kolonialisasi masa lalu. Resmi di sini, berarti perwakilan-perwakilan pemerintah harus bikin statement resmi.

Di kota gue, ada satu suburb yang dianggap basis orang aborigin. Tingkat kejahatan di atas rata-rata, alkoholisme, penodongan dan perampasan, minta-minta uang di jalan (untuk beli alcohol dan drugs), pemecahan kaca mobil (untuk menyikat barang berharga dan tidak berharga) semua marak. Pun jalan-jalan di suburb ini sedikit suram dan kumuh terutama malah hari dianggap no-go zone buat mereka yang sensible. Gue sendiri pernah dipalak, tapi lolos dengan menjauh dan cari keramaian publik.

Kesimpulan: merayakan atau tidak merayakan?

 

Publicité

Publié dans australissimo

Pour être informé des derniers articles, inscrivez vous :