ae fond kiss

Kemarin dapet DVD ini.
Bagus. Berkesan. Che bello! Impressionante.
Gue bukan seorang kritikus film yang baik. Itu harus diakui. Hemat gue, seorang yang profesional, dia bisa menonton film apapun genre-nya tanpa mengeluh dan bisa menghadirkan verdict yang subyektif.
Seperti yang kamu ketahui, saya cuma antusias melahap film-film tertentu saja (IT, FR) - selebihnya, kasus per kasus yah.
Anglomovies, yang menantang buat gue justru dari UK. Mulai dari Bend It Like Becham, yang mempelopori kebangkitan ethnicflick hingga Ae Fond Kiss.
AFK, beranjak dari tema yang sama -keluarga imigran dengan pergulatan kebudayaan mereka di tanah adopsi- namun ia lebih matang dari Bend It.
Bak inversi dari Bend It, AFK simpel dan sangat membumi: pemuda etnik yang harus menentang tradisi keluarga untuk "bersama" dengan a white person.
A big no-no.
Taboo, buat keluarga Pakistani ini.
Ah cinta terlarang emang paling seru. Semakin dilarang semakin didamba.
Apapun yang terjadi, keluarganya tak akan bisa menerima gadis kulit putih. Apalagi ia bukan muslim -mustahil buat keluarga ini yang harus menjaga kehormatan keluarga. Sebaliknya, Irish lass ini, namaya Roisin, seorang Catholic yang berprofesi sebagai guru di sekolah katolik di Glasgow. Semakin rumit. Sebab untuk mempertahankan pekerjaannya, ia perlu sertifikat "approval" dari pendeta di parish lokalnya. Si priest konservatif hanya akan memberi persetujuan dengan kondisi: Roisin menjadi Catholic yang benar, tidak tidur dengan sembarang pria, dan terutama tidak berhubungan dengan si "Mohamed" selama mereka belum menikah - yah begitulah, gosip merebak cepat dan banyak pihak yang angkat alis dengan pasangan campur ini.
Dan serunya: film ini tidak ber-happy ending. Tidak seperti di Utopia Tinseltown where the baddies get two bullets in the chest and everybody eventually lives happily ever after.
Keluarga Pakistani emang luar biasa kolot yah (atau Asia lain juga? termasuk RI kah? LOL). Mereka masih suka memaksa pernikahan comblang, anak-anak dijodohkan dengan sepupu mereka sendiri; dengan anak orang lain sedari kecil; dan bahkan si anak pun baru bertemu dengan calonnya hanya beberapa minggu sebelum hari besarnya. Dan ironisnya, di film ini, tanpa malu mereka memohon kepada si gadis kaukasia untuk meninggalkan boyfriend-nya, beralasan ia menghancurkan kebahagian seluruh keluarga (pakistani). Boh ... percuma banget mereka udah tinggal lama di UK, bahkan anak-anak mereka telah pure Glaswegian born & bred.
Gue menghargai mereka yang mau menaati tradisi, tapi kalo udah in extremis dan ngga menghargai mereka yang telah memberi tempat tinggal "baru" sampai menghina-hina: you dont know our tradition, you dont know what its like, youre destroying our family. Padahal si gadis Irish ngga melanggar hukum, ngga melanggar etiket "lokal" di UK sana. Beh, hargailah orang lain dan tanah adopsi-mu!
Dan gue kepikiran aja, di negara-negara Anglo eksekusi politically correctness semakin menggila. Kota gue memutuskan membatalkan pemasangan pohon natal publik (nb. tradisi suku Anglo selama ratusan tahun) karena "ada mereka yang tidak merayakan natal dan nantinya menyinggung mereka", lalu di korespondensi resmi menjelang bulan Desember mereka harus modifikasi wording di kartu ucapan mereka, "tanpa embel-embel Natal" lagi-lagi argumen karena tidak mau menyinggung. Belum lagi, kasian sekali, di sebuah TK publik, tahun lalu mereka harus membatalkan christmas party mereka, sebagian dari murid mereka bukan berasal dari keluarga kristian, tapi attendance kan opsional, kalo ngga sudi dateng yah anak mereka pantengin di depan tv, jangan mengeluh ke media "we don't want our kids get exposed to ... what-have-they" - whataloadabullcrap! Kasihan anak-anak lainnya atuh yang mengharapkan sedikit keramaian di akhir tahun, hiburan bersama teman, orang tua, dan guru mereka - pesta mereka dibatalkan untuk sekelompok kecil minoritas yang cuma sok sensitif padahal egois.
How does that work? Hum .. toleransi, sebagai bagian dari kaum minoritas, gue ngga akan meminta orang-orang di sekitar gue, tetangga gue, kolega gue, pemerintah kota gue untuk membatalkan tradisi mereka yang telah tertanam sejak lama, cuma demi menghormati gue dan keyakinan gue. Hey ... whats the big deal?
Being Polically Correct does not mean people push you over and you let them slap yer face. It's gotta work both way, two way street: mereka menghormati gue, dan vice versa, gue pun harus menghormati mereka. Apalagi mereka juga udah selalu berusaha berbaik hati, menghidupi gue, dan ber-tangan terbuka terhadap pendatang. Time to give something back to the community aye.
hehee ... jadi napsu begini.
Allora io vado a letto ora, sono le 23.30 !
Publicité