Sans souvenir on est mort
Pengaruh bahasa Perancis begitu luasnya sehingga banyak kosa kata mereka yang diserap oleh bahasa lain. Entah bagaimana kisahnya, tapi mulai dari bahasa Inggris, Italia, bahkan Indonesia, kata «souvenir» serempak digunakan bahkan dengan pengertian yang sama.
Souvenir (ENG, IT) : something bought or kept as a reminder of a particular place or occasion (Encarta UK, Dictionary) atau oleh-oleh, cinderamata, kenang-kenangan (woaah, banyak juga terminologi lokal kita, ternyata memberi suvenir terpatri kuat di kebudayaan Indonesia).
Namun, perlu diketahui, penyerapan tidak lengkap (parsial) tersebut mengabaikan fakta –yang mungkin jarang diketahui- bahwa souvenir memilik makna-makna lain yang sama pentingnya dengan makna “utama”-nya, pun digunakan luas oleh penutur bahasa Perancis.
1. ce qu'on garde en mémoire
2. formule de salutation polie
(Encarta FR, Dictionaire)
Yang sekiranya berarti: 1. one’s memory; 2. a form of polite greeting.
Dan selama hampir seminggu terakhir ini, saat saya terbaring di deathbed memandang kosong langit-langit kamar, banyak souvenir/ingatan meluap dan membanjiri benak bak air bandang di musim penghujan. Souvenir masa kecil. Saat saya sakit, saya yang masih kecil sakit terbaring di tempat tidur kecil di kamar dan dirawat oleh nyokap dengan telaten.
Ada beberapa etape, saya yang berusia 5 tahun, walaupun ingatan ke masa tersebut makin pudar, tapi saya masih ingat, nyokap selalu mengoleskan Vicks vaporub ke dada saya (beh … kaya iklan Vicks di tipi aja) … dan saya pun mengeluh, panas vicks-nya, Ma.
─Ngga pa pa, ntar cepet baek. Tubuh rapuh saya pun lalu dilingkupi dengan selimut tebal. Aahh... mamma, mi dà fastidio questo tutto! LOL
Lalu saya 10 tahun, nyokap mengerik punggung dengan logam seratusan edisi tahun 80-an. Selain itu, beliau juga sibuk membawakan air hangat ke pembaringan sambil memasak bubur ayam hangat. Tapi sering ngga abis (kan kalo sakit, suka susah makan atau menelan)
─Diabisin atuh, biar cepet baek. Ayo abisin.
Dan yang terakhir ini, bubur ayam hangat, menjadi souvenir mengharukan buat saya. Entah mengapa, selama sakit, saya kepingin sekali makan bubur ayam. Tapi tinggal sendiri jauh dari orang tua membuat hal ini tidak segampang tinggal bilang, Ma bikinin bubur ayam dong! Pun ngga mungkin saya minta housemates, Listen, would you please do me a favour: go to the kitchen and concoct me a pot of chicken porridge, and it has to equal to my mum's!
Nupe baby. Inilah duka nestapa hidup independen tanpa sanak keluarga sejauh 6000 kilometer dari rumah. Maman, tu me manques carrément.
Maka, sepulang kerja, mampir sejenak ke superkampret lalu bergegas pulang membawa hasil ransakan: daging ayam cincang (chicken mince) dan baby carrot. Et basta!
Setelah dua hari craving merajalela, akhirnya … semalam saya menyantap dan sangat menikmati makan malam sendiri dengan bubur ayam home made: mungkin efek psikologisnya bekerja baik, setelah satu mangkok bubur ludes, perasaan lebih nyaman. Dan tadi pagi pun badan lebih enakan, demam mereda, batuk telah jauh berkurang.
Oyah, bubur ayam saya itu pun eksperimen. Karena saya sebelumnya tidak pernah bikin menu ini, dengan mereka-reka racikan saya beginilah:
* dua porsi
Rebus beras di panci dengan air mendidih. Sisipkan dua lembar daun salam (agar aromatik) lalu masak beras seperti hendak memasak nasi. Medium-heat setengah jam. Masukkan garam (secukupnya, jangan sampai keasinan), sedikit lada. Dan karena saya menggemari cuisine thailand, maka sedikit fish sauce thai pun saya tuangkan untuk memperkaya rasa. Masukkan baby carrot, daging ayam, dan aduk. Api kecil setengah jam.
Rebus beras di panci dengan air mendidih. Sisipkan dua lembar daun salam (agar aromatik) lalu masak beras seperti hendak memasak nasi. Medium-heat setengah jam. Masukkan garam (secukupnya, jangan sampai keasinan), sedikit lada. Dan karena saya menggemari cuisine thailand, maka sedikit fish sauce thai pun saya tuangkan untuk memperkaya rasa. Masukkan baby carrot, daging ayam, dan aduk. Api kecil setengah jam.
Voilà … hasilnya tidak terlalu buruk.
Io, non sono proprio un mammone, vi giuro ... però di tempo in tempo ho bisogno di aver mia mamma, soprattutto quando sono malato non posso fa niente -che guaio. Altrimenti mi sento facilmente triste, un po’ vuoto perché non ho nessuno. Allora ti voglio bene mamma.
Publicité