cosa si mangia oggi?
Dan dua hari ini gue mendadak sangat craved laksa, kemarin buat makan malam (karena malas pulang, gue putuskan berpusing-pusing sedikit di pusat kota) dan tadi siang buat makan siang. Akibatnya –saat mengetik blog ini– perut penuh dan terasa laksaed out. LOL
Alasan lainnya adalah, sebab gue tengah ogah mengunjungi Asian foodcourt tempat biasa mangkalnya gue jam 1 siang. Foodcourt yang sangat populer buat kaum pekerja, pengunjungnya 50-50 orang Asia dan bule. Sayangnya venue-nya selain sedikit sumpek, pun ventilasi udaranya sangat tidak berfungsi, yang ada kemeja bakal sumpek dengan bau dapur pokoknya saat balik ke kantor bau Chinatown melekat seharian.
Aduh, padahal craving kan sebuah pertanda/omen yang tidak terlalu baik. Praduga buruk meluncur, mereka pake bumbu spesial mengandung ganja kah? Atau jejampian penglaris mbah dukun? Hehehe...
Laksa yang populer di negeri ini ialah tipe Malaysia yang baik fisik dan rasa (+bumbu) jauh berbeda dengan laksa versi RI. Di benak gue, laksa sejati itu kering (tidak banyak kuah), dengan mi bak udon, simpel dengan saus santan yang rada encer, dan irisan cabe. Seperti yang ditemukan di Jakarta dan dibeli kala nyokap tengah malas masuk dapur.
Bah ... tapi di kota ini semua menu Asia telah terwesternisasi. Gue ngga tau laksa Malaysia asli di tanah Melayu kaya gimana -karena belum pernah keluar dari airport mereka- tapi laksa melayu versi lokal sini, yang akhirnya menjadi versi nasional de facto, berkuah santen dalam skala besar di mangkok jumbo, mi-nya bisa bihun atau hokkien, bumbu intense-nya pun khas melayu, dan isinya rame mulai dari tahu, udang, buncis, toge hingga yang ekstravagan mixed seafood atau crab meat (foto samping).
Dan lama-kelamaan pun terbiasa, gue selalu cari laksa melayu karnaval yang bisa meletus di lidah. Sayangnya, di kedua kedai laksa langganan gue, pelayanan berkisar antara non-existent hingga semi-rude. Entah kenapa dengan mereka, tapi pelanggan adalah raja adalah konsep yang terlalu sukar dicerna oleh sang management. Bukan saja para ibu-ibu yang melayani di counter tidak tergugah untuk bilang "can I help you" dengan ramah -lebih sering "Next Please" dengan gaduhnya, boh ... tidak ada elegansinya; pun saat gue (entah customer lain) memberi uang pembayaran harus gue yang bilang "thank you" -saya, sang customer- bah bukan gue haus jilatan lidah artifisial, tapi bukankah mengucapkan terimakasih adalah hal natural saat dua pihak bertransaksi. Mengapa para ibu-ibu kasir ini tidak bisa bilang thank you- it's only two syllables can't be that hard!