SNAG, anyone?
Dan patutkah kami berterimakasih kepada Jean-Paul Gaultier? Atau selama ini ia hanya mempersulit hidup kami sambil memperbesar emporium kosmetiknya?
Monsieur Gaultier, legenda industri mode dunia. Saya bukan pemerhati la mode, seperti kata ex-suku Franks, tetapi peran Gaultier tidak bisa dipisahkan dari fenomena yang marak beberapa tahun belakangan ini terutama di negara-negara barat.
Pecinta dunia fashion setidaknya mengetahui namanya. Tak ada Paris fashion week dengan pagelaran haute-couture menjadi lengkap tanpa nama Gaultier (di sharehouse saya, kami punya cable, termasuk fashion TV gratis).
Saya tak akan bertele-tele atau “beat around the bush” : minggu lalu sambil berlalu di department store terbesar di negeri koala, keduanya sibuk adu otot mempromosikan parfum terbaru mereka, Gaultier2. Uniknya Gaultier kuadrat adalah wewangian unisex, sekategori dengan CKOne. Lebih uniknya lagi, sang pramupromo semuanya berkostum sama. Tentu ini hal lumrah dengan brand terkemuka, citra merk mereka seringkali dikontrol ketat dari pusat, tak jarang harus seragam dari Tokyo hingga Tegucigalpa. Tapi, tunggu dulu, kali ini saking seragam-nya, maka seragam si penjual pun sama, tak ada beda sama sekali. Boh … pastilah mereka mengenakan kostum kaos dan celana panjang yang sama. Begitu pikir kamu?
Kostum mereka adalah kaus dan rok dengan label parfum baru tersebut.
Rok. La jupe. La gonna. Skirt. Item pakaian wanita. Yang akan menimbulkan skandal jika dikenakan pria, kecuali untuk drag queens tentu saja. Tapi ini dept store untuk keluarga.
Tak ada masalah sama sekali. Marketing masa kini haruslah jor-joran untuk mendapatkan perhatian publik. Dan jadilah si SPL (sales promotion lad, bolehkan menggunakan istilah ini?) mengenakan rok bermodel sama dengan rekan kerja wanitanya. Model rok tersebut bukan tipe kilt skotlandia (kalau saja iya, tentu ia tak akan dilirik dua kali, kilt di sini seringkali dipakai, terutama weekends di acara-acara wedding lokal) tapi model untuk gadis ABG, pendek sepaha, hitam, bahkan condong ke model gadis sekolah menengah di negeri wasabi (think Sailor Moons and you won’t be that far off!) LOL
Dan beberapa tahun terakhir ini, kami selalu dan semakin dituntut untuk transformasi diri menjadi « metroseksual » atau bahkan « retroseksual » harapan dunia modern yang sangat demanding? Bukan tanpa pengorbanan dan tanpa usaha keras untuk menyulap diri menjadi hal tersebut, dan saya tak tertarik dan tak sanggup untuk terjerumus. Berapa besar budget yang harus ditepis untuk membeli “ kosmetik pria “. Berapa besar proporsi dari waktu persiapan di pagi hari yang mesti dialokasikan sebelum berangkat kerja, apalagi untuk keluar jalan weekend dengan teman-teman! Dua jam? Yea, you wish my friend!
Gaultier bisa dianggap si pelopor dan lokomotif, bahkan juggernaut, kosmetik maskulin, giat mengibar bendera dan menabuh genderang metroseksualisme kepada dunia, walaupun produk-produknya lebih diasosiasikan dengan feminitas, dengan komunitas gay bahkan.
Tahun lalu, untuk kelas French, saya membawa artikel ringan untuk didiskusikan dengan classmates. Analisa para ahli kosmetik Perancis, yang sebenarnya cuma kepala divisi marketing. Menurut mereka, grafik penjualan kosmetik kaum adam semakin meninggi, tentunya sangat menggembirakan untuk mereka yang berkecimpung di industri kecantikan Perancis! Satu alasan lain, kosmetik maskulin adalah diversifikasi strategem dari kosmetik wanita yang telah jenuh dan terlalu “dog eats dog” (humm, atau bitch yang lebih tepat?).
Maka, konsekuensi: papan nama Gaultier bukan saja bangga menampilkan classics-nya, tapi kini juga punya set alat rias untuk kaum adam, diluncurkan dua/ tiga tahun lalu, Tout Beau Tout Propre. Yang intinya tetaplah produk wanita untuk pria, eye lasher, poutier (lipstik), lip balm, blusher, eye shadow, plus embel-embel anti-wrinkle pen. Taktik pemasaran mereka, kosmetik «new age» ini harus membawa image maskulin, diasosiasikan dengan kesukseskan dan kematangan hidup. Pun dengan penamaan produk, its gotta sound masculine indeed or at least neutral. Maka itu, alangkah tepatnya tout beau tout propre [all beautiful all clean - foto samping] LOL. Marketing gimmick at its best?
Target: CEOs atau mereka yang hanya dua tangga lagi menjadi CEO. Dengan pricetag di atas AUD60 per item, tak banyak mereka yang mampu mendapatkan satu set lengkap. Beli ketengan? Memangnya rokok jisamsu?
Itu pun belum cukup. Untuk komplit-nya kini banyak produk pria, pour homme, yang bermunculan bak cendawan di musim hujan. Biotherm mungkin yang paling komprehensif garis produknya. Pun Lancôme. Juga Clinique. Lalu Estée Lauder ikut-ikutan. Satu kesamaan, krim anti garis ketuaan yang biasanya dinamai "anti wrinkle" berubah menjadi " anti stress ", atau «crème anti-fatiguant», atau «tonique détoxifiant», isi boleh sama tapi labelisasinya harus menjual ke konsumen!
* SNAG = sensitive new age guy
Monsieur Gaultier, legenda industri mode dunia. Saya bukan pemerhati la mode, seperti kata ex-suku Franks, tetapi peran Gaultier tidak bisa dipisahkan dari fenomena yang marak beberapa tahun belakangan ini terutama di negara-negara barat.
Pecinta dunia fashion setidaknya mengetahui namanya. Tak ada Paris fashion week dengan pagelaran haute-couture menjadi lengkap tanpa nama Gaultier (di sharehouse saya, kami punya cable, termasuk fashion TV gratis).
Saya tak akan bertele-tele atau “beat around the bush” : minggu lalu sambil berlalu di department store terbesar di negeri koala, keduanya sibuk adu otot mempromosikan parfum terbaru mereka, Gaultier2. Uniknya Gaultier kuadrat adalah wewangian unisex, sekategori dengan CKOne. Lebih uniknya lagi, sang pramupromo semuanya berkostum sama. Tentu ini hal lumrah dengan brand terkemuka, citra merk mereka seringkali dikontrol ketat dari pusat, tak jarang harus seragam dari Tokyo hingga Tegucigalpa. Tapi, tunggu dulu, kali ini saking seragam-nya, maka seragam si penjual pun sama, tak ada beda sama sekali. Boh … pastilah mereka mengenakan kostum kaos dan celana panjang yang sama. Begitu pikir kamu?
Kostum mereka adalah kaus dan rok dengan label parfum baru tersebut.
Rok. La jupe. La gonna. Skirt. Item pakaian wanita. Yang akan menimbulkan skandal jika dikenakan pria, kecuali untuk drag queens tentu saja. Tapi ini dept store untuk keluarga.
Tak ada masalah sama sekali. Marketing masa kini haruslah jor-joran untuk mendapatkan perhatian publik. Dan jadilah si SPL (sales promotion lad, bolehkan menggunakan istilah ini?) mengenakan rok bermodel sama dengan rekan kerja wanitanya. Model rok tersebut bukan tipe kilt skotlandia (kalau saja iya, tentu ia tak akan dilirik dua kali, kilt di sini seringkali dipakai, terutama weekends di acara-acara wedding lokal) tapi model untuk gadis ABG, pendek sepaha, hitam, bahkan condong ke model gadis sekolah menengah di negeri wasabi (think Sailor Moons and you won’t be that far off!) LOL
Dan beberapa tahun terakhir ini, kami selalu dan semakin dituntut untuk transformasi diri menjadi « metroseksual » atau bahkan « retroseksual » harapan dunia modern yang sangat demanding? Bukan tanpa pengorbanan dan tanpa usaha keras untuk menyulap diri menjadi hal tersebut, dan saya tak tertarik dan tak sanggup untuk terjerumus. Berapa besar budget yang harus ditepis untuk membeli “ kosmetik pria “. Berapa besar proporsi dari waktu persiapan di pagi hari yang mesti dialokasikan sebelum berangkat kerja, apalagi untuk keluar jalan weekend dengan teman-teman! Dua jam? Yea, you wish my friend!
Gaultier bisa dianggap si pelopor dan lokomotif, bahkan juggernaut, kosmetik maskulin, giat mengibar bendera dan menabuh genderang metroseksualisme kepada dunia, walaupun produk-produknya lebih diasosiasikan dengan feminitas, dengan komunitas gay bahkan.

Tahun lalu, untuk kelas French, saya membawa artikel ringan untuk didiskusikan dengan classmates. Analisa para ahli kosmetik Perancis, yang sebenarnya cuma kepala divisi marketing. Menurut mereka, grafik penjualan kosmetik kaum adam semakin meninggi, tentunya sangat menggembirakan untuk mereka yang berkecimpung di industri kecantikan Perancis! Satu alasan lain, kosmetik maskulin adalah diversifikasi strategem dari kosmetik wanita yang telah jenuh dan terlalu “dog eats dog” (humm, atau bitch yang lebih tepat?).
Maka, konsekuensi: papan nama Gaultier bukan saja bangga menampilkan classics-nya, tapi kini juga punya set alat rias untuk kaum adam, diluncurkan dua/ tiga tahun lalu, Tout Beau Tout Propre. Yang intinya tetaplah produk wanita untuk pria, eye lasher, poutier (lipstik), lip balm, blusher, eye shadow, plus embel-embel anti-wrinkle pen. Taktik pemasaran mereka, kosmetik «new age» ini harus membawa image maskulin, diasosiasikan dengan kesukseskan dan kematangan hidup. Pun dengan penamaan produk, its gotta sound masculine indeed or at least neutral. Maka itu, alangkah tepatnya tout beau tout propre [all beautiful all clean - foto samping] LOL. Marketing gimmick at its best?
Target: CEOs atau mereka yang hanya dua tangga lagi menjadi CEO. Dengan pricetag di atas AUD60 per item, tak banyak mereka yang mampu mendapatkan satu set lengkap. Beli ketengan? Memangnya rokok jisamsu?
Itu pun belum cukup. Untuk komplit-nya kini banyak produk pria, pour homme, yang bermunculan bak cendawan di musim hujan. Biotherm mungkin yang paling komprehensif garis produknya. Pun Lancôme. Juga Clinique. Lalu Estée Lauder ikut-ikutan. Satu kesamaan, krim anti garis ketuaan yang biasanya dinamai "anti wrinkle" berubah menjadi " anti stress ", atau «crème anti-fatiguant», atau «tonique détoxifiant», isi boleh sama tapi labelisasinya harus menjual ke konsumen!
* SNAG = sensitive new age guy
Publicité