bah, on y va

pfff... ngga dinyana weekend ini ngga ada kereta. dan hal ini mengakibatkan pemoloran dari suburb gue ke brighton-le-sands, dari standar 30" jadi >1jam dg bus. bah... kalo aja bukan demi penuhi janji brunch sejak 2 minggu lalu, males betul euy.
dan dua orang batal dateng, rosalia (sakit tenggorokan) dan ben (hangover) whoah... jadilah grup kami terpangkas setengah.
gregoire akan balik ke paris 3 minggu lagi untuk dua alasan: 1. working holiday visa-nya berakhir yg berarti dia harus keluar dari negara ini, 2. bersua dg keluarganya. whoah... cepet bgt, ngga terasa udah setaon dia tinggal di sini, kemampuan bhs-nya jauh meningkat, aksen gallic-nya tereduksi besar-besaran, singkat kata dia semakin menjadi anglo daripada gaulois, semakin menjadi aussie daripada frenchie.
hu hu hu, gue ngga hendak bergosip tapi .. hmm, baiklah gue ceritakan hal ini yg (how would you put this) rada ngga masuk di akal gue. hmm.. atao mungkin lebih tepat dibilang "terbalik belakang" dg aspirasi gue.
gregoire dateng ke australia bertujuan untuk mengambil sebuah "break" dari ke-rutinitas-an kehidupan paris-nya, working holiday visa memungkinkannya untuk berpetualang ke ujung dunia sembari bekerja untuk mem-finance perjalanannya. dan dia bertemu dg lyn - err, di hari pertamanya di sini, whoaah... talking about love at first sight - dan mereka went out etcetera etcetera. dan skrg, di perhujungan WHV dia memutuskan untuk kembali ke paris untuk ... berlibur - selama dua bulan.
lalu kembali ke mari, untuk tinggal, menjadi residen, mencari pekerjaan, mengadu nasip, however you wish to paraphrase it.
sedikit latar belakang: gregoire lebih muda (mungkin) 2 taon dari gue dan walopun blm pernah menjalani pekerjaan yg "decent" selepas studi-nya, tapi dg gelar master of communication dari institusi terkemuka di paris - note, sistem pendidikan perancis menempatkan la grande ecole sebagai pinnacle, puncak institusi pendikan paling bergengsi, paling tinggi di sana - harusnya gregoire bisa dg mudah merintis karir yg cemerlang akan tetapi kronologis hidupnya akan berk
ata lain.
gue ngga bisa mengerti, meliat alasan2 kuat mengapa dia mau menukar kehidupan paris menjadi sydney. nice weather kah, white sand beaches kah, tanned sporty chicks strolling along the beach kah ? bagi gue sendiri, kehidupan parisian jauh ... lebih ... memikat ati dan nurani. dan ini berbicara secara jujur. tentu aja lain hati lain birahi.
plus, living in this most glamorous, some dare claim it prettiest city on the face of this planet - euh, termasuk gue, he he-, harusnya semakin memukau di benak. untuk bukti, liat kami-kami ini, student of the french studies. entah berapa jumlah classmates gue yg berbinar2 saat membandingkan catatan (comparing notes) perjalanan mereka di "la ville de la lumière - paris - plus aspirasi dan harapan mereka, "oaaah, to live in paris is my dream" has become the cliché, bahkan de rigeur. okay, baiklah mungkin ada satu dua yg cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu di campagne francaise, tapi ini pun selain butuh keberanian banyak untuk menentang arus trend, bisa diitung dg sedikit jari. mmm.. gue sendiri termasuk di "sekolah" (i belong to that school) yg merujuk paris sebagai impian dan tujuan mereka.
secuplik konklusi: adalah benar rumput tetangga tampak hampir selalu lebih segar dan hijau. saya sendiri cukup beruntung, telah melihat sejumput bagian dari dunia ini, baru bisa afford liat sedikit bagian dari dunia " lain " from dashing, salaciously enticing, fundamentally perplexing, to revolting even - akan tetapi, bak drugs tanpa antidote, semakin banyak yg gue selami dan alami, semakin besar ketidakpuasan timbul. untungnya, di lain pihak gue semakin independen dan piawai menghitung hari demi hari (err yea i guess two plus two is four dude!) dan korelasi hidup. mungkin harus temukan equilibrium yg lebih baik.
d'accordo ?
...